PERLUKAH KITA JUJUR

Judul: Perlukah Kita Jujur

Penulis: Neneng Hendriyani, M.Pd

Penerbit: CV. Cakrawala Milenia Jaya

Cetakan 1: Mei 2018

Cetakan 2: Juli 2018

Tebal: viii+62 halaman

ISBN: 978-602-52072-0-4

Acap kali kita mendengar bahwa kejujuran adalah mata uang yang berlaku di mana-mana. Sebagai mata uang, jumlah uang yang diterima pun lebih besar dari jumlah uang yang diterima dari sebuah logam mulia seperti emas. Saking besarnya jumlah uang yang dapat diperoleh dari kejujuran, maka orang yang memilikinya pun menjadi orang yang paling kaya raya di dunia ini. Mengapa demikian? Hal ini karena tiada hal yang paling bernilai di dalam kehidupan ini kecuali kejujuran.

Sebagai bagian dari sifat hakiki yang tercermin pada sikap seseorang yang membedakannya dari orang lain, jujur menempati posisi paling tinggi. Posisi lainnya ditempati oleh mandiri, tanggung jawab, peduli, disiplin, sederhana, kerja keras, adil, dan berani.  Sikap jujur ini menentukan seberapa tinggi kualitas kepribadian seseorang. Ia adalah orang yang dapat menjalankan beragam tanggung jawab yang dimilikinya dengan baik. Itulah orang yang dapat dipercaya oleh siapa pun, kapan pun dan di mana pun ia ada.

Sebagai makhluk yang berakal budi, kita harus jujur. Tidak peduli apa pun peran dan bidang pekerjaan yang dimiliki apakah itu sebagai siswa, guru, teknisi, laboran, dokter, satpam, karyawan, birokrat, dan lain-lain, kita harus jujur. Jujur di sini adalah lurus hati dan tidak curang dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab yang diemban masing-masing peran dan bidang pekerjaan tersebut. Jujur di sini pun berarti tidak berbohong, tulus, dan ikhlas berbuat sesuatu terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri dan orang lain.

Sebagai contoh, sebagai siswa yang baik maka sudah sepatutnya berlaku baik, disiplin, tidak curang, tidak malas, tidak telat, dan taat terhadap tata tertib sekolah. Senantiasa rajin dalam belajar dan mengikuti berbagai kegiatan penilaian yang diwajibkan untuk diikuti; seperti ulangan harian, penilaian tengah semester, penilaian akhir semester, penilaian akhir tahun, ujian kompetensi keahlian, ujian akhir sekolah, dan ujian nasional. Sedikit pun kita tidak boleh curang dalam menjawab seluruh soal yang diberikan. Kita tidak boleh bekerja sama saat ujian berlangsung, apalagi sampai menyontek dari buku catatan dan pekerjaan teman.  Apa pun jenis soal yang diujikan, betapa pun sulitnya soal tersebut kita harus berusaha mengerjakannya sendiri. Jangan sekali-kali meminta bantuan teman untuk menjawabnya. Jangan pula berusaha mencari, mendapatkan dan membawa kunci jawaban ke ruang ujian. Itu baru siswa teladan dan jujur.

Sebagai seorang guru, kita pun harus jujur. Bila si anak tersebut tidak mampu menyelesaikan tugasnya sesuai dengan format penilaian yang sudah ditetapkan sebelumnya maka jangan sekali-kali memberikannya nilai yang tinggi. Jangan berdalih dengan alasan kasihan terhadap si anak tadi. Rasa kasihan itu tidak mendidik ia menjadi siswa yang baik dan rasa tersebut pun dapat menjerumuskannya ke dalam keburukan di masa yang akan datang. Selain itu, sebagai guru yang jujur, tidak boleh menukar nilai siswa. Bila siswa yang baik dan sering memberi bingkisan diberi nilai tinggi sementara siswa yang tidak pernah memberi apa pun diberikan nilai yang rendah itu adalah tindakan yang salah. Tindakan yang tidak terpuji. Berikanlah remedial dan pengayaan sesuai dengan porsinya kepada siswa yang benar-benar berhak mendapatkannya. Dengan berlaku jujur dalam melaksanakan seluruh kegiatan pembelajaran,  termasuk di dalamnya jujur dalam menyampaikan materi pembelajaran, menyusun soal latihan, soal penilaian akhir tahun hingga menyampaikan hasil belajar peserta didik maka kita sudah menjadi guru yang baik dan jujur. Yang perlu diingat adalah jangan pernah sekali pun curang dalam mengerjakan tugas dan kewajiban tersebut. Sebab akibat dari tindakan curang itu dapat membawa dampak negatif bagi diri sendiri, orang lain (siswa), masa depan bangsa dan negara.

Penyelenggara pendidikan, contohnya yayasan pendidikan atau lembaga pendidikan swasta, juga harus jujur dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya. Tindakan jujurnya dapat ditunjukkan dalam pengadaan sarana dan prasarana pendidikan sesuai dengan standar yang diberikan pemerintah, menyusun kebutuhan anggaran pendidikan dan melaporkan penggunaan anggaran pendidikan secara berkala. Tidak boleh mengorupsi segala sesuatu yang bisa dikorupsi; pengadaan barang, atk, bahan bangunan, laporan keuangan. Termasuk di dalamnya tidak boleh terjadi gratifikasi, penyalahgunaan wewenang dan jabatan, pemerasan, dan lain-lain.

Sebagai pemerhati pendidikan pun kita sepatutnya bersikap jujur. Bila ditemukan ada indikasi kekurangan dalam penyelenggaraan pendidikan termasuk di dalamnya terdapat indikasi kecurangan dalam pelaporan dan penggunaan anggaran pendidikan maka harus segera dilaporkan ke KPK. Laporan ini dapat dilakukan melalui aplikasi Jaga KPK atau melalui laporan berbasis web resmi KPK. Tidak boleh sedikit pun terbersit dalam pikiran untuk menutupi segala carut marut masalah tersebut dari pihak yang berwenang. Jangan mudah tergiur dengan iming-iming yang diberikan pihak terlapor tersebut. Ingatlah selalu bahwa kerusakan di negara ini dapat semakin luas terjadi karena orang baik dan jujur banyak yang membiarkannya terjadi.

Sebagai pelaku dari profesi lainnya di masyarakat seperti Polisi, TNI, dokter, perawat, pedagang, teknisi, petani, penyanyi, pemain film, sutradara, penari, pelukis, sastrawan, bahkan diplomat, kita juga harus jujur. Yakni jujur dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab yang melekat dalam bidang keahlian yang kita emban masing-masing. Jangan sekali pun ada keinginan untuk berbuat curang dalam melaksanakan tugas tersebut bila ingin karier kita berakhir dengan cemerlang. Jangan sekali-sekali berbohong kepada pengguna jasa kita, bila ingin hidup kita mendapatkan karunia dan kebaikan.

Nah, apa sih jujur itu? Jujur menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia V (KBBI V) adalah lurus hati; tidak berbohong (misalnya dengan berkata apa adanya), tidak curang (misalnya dalam permainan, dengan mengikuti aturan yang berlaku), tulus, ikhlas. Sementara itu, kejujuran yang merupakan kata benda dari kata jujur diartikan sebagai sifat (keadaan) jujur; ketulusan (hati); kelurusan (hati).

Jelasnya, jujur adalah perbuatan dan sebagainya yang berdasarkan pada keyakinan dan pendirian seseorang yang mengemukakan segala sesuatu dengan sesungguhnya secara benar dan apa adanya, tidak menambah-nambahinya maupun menguranginya. Bila A, dikatakannya A. Bila B, dikatakannya pula B. Tidak pernah A berubah menjadi A aksen apalagi B. Dengan kata lain, jujur merupakan perbuatan yang baik berupa cara penyampaian terhadap sesuatu dengan benar dan asli sesuai kenyataan dan fakta.

Imam Suraji menjelaskan bahwa jujur atau benar dalam bahasa Arab disebut Shiddiq. Pada hakikatnya, jujur dapat diartikan dengan menyampaikan sesuatu sesuai dengan kenyataan yang ada. Penyampaian tersebut dapat dilakukan dalam bentuk perkataan, tulisan, isyarat dan perbuatan. Saking tingginya nilai kejujuran dalam perspektif Islam, maka kejujuran harus mencakup semua aktivitas seorang muslim dimulai dari niat hingga ke tahap pelaksanaannya baik berupa perkataan, tulisan, kesaksian maupun perbuatan lainnya. Allah pun menegaskan pentingnya kejujuran ini dalam firmannya yang terdapat dalam QS. Al – Hujurat: 15. Oleh sebab itu, tidaklah pantas seorang muslim dikatakan beriman apabila ia berbuat dusta.

Nurul Zuriah juga menjelaskan bahwa jujur sebagai sikap dan perilaku yang tidak suka berbohong dan berbuat curang, berkata apa adanya, berani mengakui kesalahan.

Dari beberapa definisi jujur di atas, maka kejujuran terletak pada ucapan, dan perbuatan seseorang. Antara ucapan dan perbuatannya harus selaras, seirama, seia dan sekata. Ucapan di sini termasuk ucapan lisan dan tulisan. Apabila tidak ada keselarasan maka dikatakan dusta. Orang yang berdusta biasanya tidak dipercaya oleh siapa pun termasuk teman dekatnya. Mengapa demikian? Hal ini dikarenakan setiap sebuah kebohongan atau perbuatan dusta yang dilakukan oleh seseorang pasti ditutupi oleh beberapa perbuatan dusta lainnya. Siapa pun tidak akan suka bila dibohongi bukan? Apalagi oleh teman dekatnya. Maka, orang yang berdusta atau pendusta tidak akan memiliki teman dekat.

(Bogor, 02 Juli 2018)

*Pesan segera buku ini di https://bit.ly/Bumori53 dan dapatkan merchandise menarik

Please follow and like us:
0

Published by

cmj

Cakrawala Milenia Jaya adalah web resmi CV. Cakrawala Milenia Jaya yang bergerak di bidang penerbitan indie (indie publishing). Hub. WA 08131636202-085715773482, e-mail: cakrawalamileniajaya@gmail.com, ig: @cakrawalamilenia

Leave a Reply