Fajar di Penghujung Tahun : Antologi puisi

Menulis puisi sebenarnya tidak lah mudah. Namun bukan berarti susah. Dalam buku ini sekumpulan guru SD di Pesawahan Purwakarta telah membuktikan kemampuannya menulis puisi bersama-sama.

Puisi-puisi yang ditulis oleh Pengawas Pembina, Kepala Sekolah, Dewan Guru dan Pegawai Sekolah ini ditulis pada akhir Desember 2019. Isinya beragam. Tak hanya tentang sekolah dan berbagai cerita kesehariannya tetapi juga tentang harapan dan keinginan para penulisnya.

Dok. Cmj

Lewat untaian puisi mereka serukan impian, harapan dan cita-cita untuk masa depan.

Please follow and like us:
0

ANTOLOGI PUISI DAERAH KARYA GURU NUSANTARA

Antologi Puisi Daerah Karya Guru Nusantara Copyright ©Kokom Komara [et al], 2019
Penulis: Kokom Komara [et al] ISBN: 978-623-90723-6-0
Editor: Neneng Hendriyani
Penyunting dan Penata Letak: Tim CV Cakrawala Milenia Jaya
Desain Sampul: Cahsantri@gmail.com Cetakan Pertama, Oktober 2019 Ukuran: 14.8 x 21 Jumlah Halaman xiv+187

Alhamdulillahirabbil ‘alamin, rasa syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan yang Maha Kuasa yang telah melimpahkan rahmat-Nya berupa kesehatan, kesempatan serta pengetahuan sehingga Buku “Antologi Puisi Bahasa Daerah Karya Guru Nusantara” yang merupakan edisi kedua, buah karya dari sahabat-sahabat penyair di dunia maya yang terhimpun berdasarkan ide dari dari para sahabat, yang dikumpulkan oleh admin dengan tema bebas, sehingga penyair lebih bebas menuangkan idenya, di sebuah grup Dupak sudah bisa diterbitkan. Dengan terbitnya Buku “Antologi Puisi Bahasa Daerah Karya Guru Nusantara” membuktikan mimpi dan keinginan untuk membuat karya inovatif penciptaan karya seni yang berupa imaji-imaji yang berkeliaran, lahir dari realitas-realitas sekitar diwarnai dengan khayal. Kata-katanya, kadang kaku walau tidak beku, kadang cair meskipun tidak mencair. Selalu hadir dalam lintasan sejarah, menjadi juang walau tidak pernah berjuang, atau hanya menjadi teman dalam sepi bagi yang selalu merasa kesepian. Tetapi kami tetap berusaha menjadikan puisi kami tidak sebatas kata yang diikat kalimat, dipoles dengan titik dan koma, yang menjadi bait-bait indah disanggul larik, yang liriknya membariskan rasa, membuat frasa sendiri dalam tubuhnya. Fisiknya; kadang kurus, kadang gemuk, hingga paradoks yang di dalamnya ada unsur tuntunan dan pendidikan, dari sahabat-sahabat seluruh Nusantara yang diwadahi dengan media sosial WhatsApp. Penyusunan buku ini bukan lagi suatu keinginan yang muluk, dan mustahil, karena sambutan dari sahabat-sahabat begitu antusias dengan satu tekad dalam rangka mengangkat kearifan lokal dengan melestarikan, mencintai dan memperkenalkan bahasa daerah masing-masing dengan harapan untuk mempererat tali persaudaraan sehingga dapat menjalin persatuan dan kesatuan bangsa. Buku Antologi Puisi Daerah Karya Guru Nusantara ini juga membuktikan bahwa kami senantiasa mengikuti dinamika perkembangan teknologi yang berkembang sedemikian pesat demi kemajuan pendidikan di Indonesia, yaitu karya inovatif penciptaan karya seni. Hasil dari diskusi Kelompok Kerja Guru Online, menghasilkan buku kedua dengan jumlah penulis 20 orang dan membuahkan hasil karya puisi sebanyak 114 buah. Terima kasih kepada sahabat-sahabat Nusantaraku yang sudah berkontribusi dengan memberikan ide-idenya lewat coretan-coretan indahnya dan menjadi bagian dari lahirnya buku edisi kedua ini. Kendati penulisan dalam buku ini masih secara ringan, santai, dan dalam bahasa yang sederhana, tentu saja, di sana sini masih banyak bahasa yang kurang pas dengan yang diharapan. Tetapi kami semua berharap semoga buku sederhana ini memberikan perspektif berbeda dan menjadi bagian kecil yang dapat memperkaya khazanah kesusastraan bangsa Indonesia. Akhir kata, mohon maaf kami sampaikan karena karya kami masih banyak kekurangan, kekeringan, kejenuhan. Pendek kata, jauh dari kesempurnaan. Dengan lapang dada kami mengharap saran, kritik, dan masukan yang membangun agar kami bisa terus memperbaiki karya-karya kami berikutnya

Purwakarta, 4 Oktober 2019 Koordinator Grup WhatsApp Guru Nusantara

Kokom Komara (Umi Komara)

Get this book through Bumori53.

Please follow and like us:
0

ALBATROS

ALBATROS Copyright © Neneng Hendriyani, 2018

Penulis: Neneng Hendriyani

ISBN: 978-602-53493-6-2

Editor: Neneng Hendriyani

Penyunting dan Penata Letak: Tim CV Cakrawala Milenia Jaya

Desain Sampul: Eka Yulistia

Cetakan Pertama, Februari 2019

Hendriyani, Neneng ALBATROS/Neneng Hendriyani.; Editor, Neneng Hendriyani -cet.1-2019 Ukuran: 14.8 x 21 Jumlah Halaman ix+5

Alhamdulillah atas berkat rahmat dan hidayah-Nya aku dapat menyelesaikan buku kumpulan puisi ini. Ini adalah buku kumpulan puisiku yang kedua setelah “Setangkup Rindu Dari Masa Lalu”.

Bila pada buku pertama aku mengangkat tema tentang cinta yang tak sampai antara Yang Mulia Baginda Raja Hayam Wuruk dengan Dyah Pitaloka, maka di buku ini aku mengangkat tentang perjalanan hidup seorang gadis yang menanti Albatrosnya pulang. Albatross adalah seekor burung yang memiliki kemampuan terbang luar biasa. Ia hidup di belahan dunia yang cukup ekstrim. Sangat berbeda dengan iklim tropis yang biasa menemani si gadis tumbuh dan berkembang dari hari ke hari.

Melalui Albatros ini aku ingin menyampaikan pesan bahwa cinta bisa tumbuh begitu saja tanpa melalui pandangan pertama yang begitu dipuja manusia. Cinta sebagai sebuah perasaan yang halus dan jujur yang dimiliki oleh setiap insan ini bisa tumbuh dengan subur berkat upaya gigih dari seseorang yang menginginkannya tumbuh subur. Perbedaan yang muncul di antara kedua insan bukanlah faktor penghalang hadirnya cinta yang suci. Ia justeru menjadi perekat yang menyatukan seluruh perbedaan tersebut.

Memang lagi-lagi aku harus mengakui bahwa perempuan adalah makhluk yang lemah. Dengan seluruh kelembutan dan air matanya ia hanya bisa berharap dan berdoa. Lewat kidung doa yang panjang ia tak pernah berputus asa akan kehadiran kekasihnya. Dengan doanya pula ia yakin ia bisa melindunginya dari seluruh marabahaya yang mengancam keselamatannya.

Tiada tempat untuknya bertanya dan mengadu. Kepasrahan kepada Yang Maha Tinggi lah yang membuatnya kuat dan bertahan.

Bagaikan pungguk merindukan bulan, itulah gambaran kisah antara si gadis dengan Sang Albatros. Selama rembulan masih bersinar, Pungguk setia bertengger di dahan sambil tersenyum dari kejauhan. Bukanlah pertemuan yang ia sesali. Kenyataan pahit yang sedikit membuatnya kecewa karena ia terpaksa belajar untuk tetap kuat berdiri di dahan setiap malam. Bukan soal waktu kapan bisa bersatu tetapi mampukah ia melawan dirinya sendiri.

Raja Badai

Oleh: Neneng Hendriyani

Lanun samudera terapung-apung Digulung ombak malam jahanam Layar robek, tiang pun patah Palka penuh air sedada

Gelombang kian dansa Pongah tak beri ruang bertanya Apalagi sekedar doa Milik lanun penjarah harta

Ah, badai hempas karam sekuat tenaga Siur angin hancurkan pohon kelapa Gelombang naik ke daratan Pongah kabarkan dirinya

Ini aku Raja Badai datang Tiap 25 saka mengamuk Mengaduk laut Angkat bangkai karam, jarahan lanun samudera Digulung ombak malam jahanam

(Bogor, 13 Juni 2018)

Get this book through Bumori53 with special price.

Please follow and like us:
0

RISALAH BUMI

RISALAH BUMI

Copyright © Ahmad Ardiansyah

 

Penulis:

Ahmad Ardiansyah

 

ISBN: 978-602-53493-3-1

 

Editor:

Neneng Hendriyani

Penyunting dan Penata Letak:

Tim CV Cakrawala Milenia Jaya

 Desain Sampul:

Why Boedy

Penerbit

Cakrawala Milenia Jaya

Bumi Karadenan Permai Blok AA 8 No. 11-12

Cibinong – Bogor

Jawa Barat

Telp. 08136336202 – 085715773482

cakrawalamileniajaya@gmail.com

web: http://cakrawalamj.co.id

 Cetakan Pertama, Januari 2018

 

Ardiansyah, Ahmad

Risalah Bumi/Ahmad Ardiansyah.;  Editor, Neneng Hendriyani -cet.1-2018

Ukuran: 14.8 x 21

Jumlah Halaman viii+57

RISALAH BUMI

 

Selamat ku ucapkan,

Sajak-sajak sederhana yang telah lahir,

Dari sempalan kisah perjalanan.

Yang berserak di hati dan pikiran, lalu ku kumpulkan.

Sekarang kata-kata sudah bebas,

Terbang dan lepas tak terbelenggu,

Yang menembus seperti peluru,

Ke hati dan otak manusia,

Satu persatu.

Baca,

Rasakan,

Makna di setiap kata,

Kata di setiap makna.

Bumi tersungkur dan bersujud,

Karna nikmat semua telah dibasuh,

Mengawal setiap langkah,

Jangan takut untuk berlelah,

Bila ujungnya terlihat indah.

 

20 Des 2018

Penulis,

Ahmad Ardiansyah

 


CINTA DAN WAKTU

Oleh : Ahmad ardiansyah

Kita sudah melewati berpuluh-puluh jam,
Berjuta detik,
Menjadi jiwa yang kuat,
Menuntun hati yang lemah.

Sejuknya sepi,
Pada malam menyala lampu bintang,
Menikmati bulan,
Merasakan kehampaan yang mendalam.

Penyair bukanlah pandai membuat puisi,
Tetapi meraka yang mempunyai hati,
Dengan semangat cinta yang suci.

Cikarang, 26/11/2018
#Risalah Bumi

Get this book through Bumori53.

Please follow and like us:
0

Hati Yang Berbisik

Hati yang Berbisik
Kumpulan Sajak
Copyright © 2018 Cakrawala Milenia Jaya.
Hak Cipta Dilindungi Undang-undang
All Right Reserved
ISBN
978-602-53493-0-0
Editor
Neneng Hendriyani
Desain Sampul & Layout Cover Dalam
Boedy Why
Penerbit
Cakrawala Milenia

Berpikir Semu
Berpikir bak sufi
Berkelakar ala dewa dewi
Dada membusung dipuja puji
Terkubur nyanyian lupa diri
Langkah hawa nafsu membara
Pikiran terimpit luka menganga
Dimata manusia memang berbeda
Di mata tuhan tetap sama
Nafsu angkara membuat merana
Jati diri hati harus kita kelola
Karena tuhan yang mencipta
Yang tak bisa musnah begitu saja
Kecuali kita balik ke alam fana
# MI, 04-01-2016
# Sajak sadar diri

Get this book through Bumori53.

Please follow and like us:
0