
Antologi Petualang Sang Twesthree : Kisah Klasik Untuk Masa Depan
Penulis : Peserta Didik XII MIPA 3 SMA Negeri 2 Cibinong
QRCBN : 62-839-9049-021
Penyunting : Queensy
Pemindai Aksara : Neneng Hendriyani
Penata Letak : Tim CMJ
Desainer Sampul : Hapiah
Cetakan Pertama, Desember 2022
Penerbit
Cakrawala Milenia Jaya
Bumi Karadenan Permai Blok AA8 No.11-12
Cibinong – Bogor Jawa Barat
cakrawalamileniajaya@gmail.com
IG: cakrawalamilenia
Jumlah halaman ix + 420
Hak Cipta Dilindungi Undang-undang
Kisah Klasik Untuk Masa Depan: Antologi Petualang Sang Twesthree merupakan salah satu buku yang tidak akan pernah dilupakan karena terdapat senang, sedih, suka, maupun duka sebagai pemanis dari buku ini. Mudah dimengerti dan menarik yang menceritakan kisah hidup murid-murid XII MIPA 3 yang pantang menyerah dan tidak putus asa hingga menjadi pribadi yang terbentuk sekarang hingga dewasa kelak. Harapan kami buku ini dapat digunakan sebagai pelajaran untuk kita semua, diambil manfaat yang terdapat di buku dan direnungkan yang buruk.
PERJALANAN HIDUP YANG SANGAT BERMAKNA
Elvira Tsaabitah Prima Basuki 76
Jeremi Laurensius Manurung 169
KENANGAN TIDAK DAPAT TERULANG, APALAGI DIBELI DENGAN UANG..
SEBUAH KISAH KLASIK UNTUK MASA DEPAN
HIDUP BAHAGIA, SAMPAI AKHIRNYA MATA MEMBAWA CELAKA..
SEJARAH PERJALANAN HIDUP PRIBADI
Namaku Ahmad Afif Pramudhianto. Aku biasa dipanggil dengan sebutan Apip. Aku anak pertama dari tiga bersaudara. Aku dilahirkan pada Mei 2005 oleh keluarga sederhana. Dengan Penuh kasih sayang kedua orang tuaku membesarkan dan mendidikku hingga saat ini. Sekarang aku bersekolah di SMAN 2 Cibinong.
Hai. Perkenalkan namaku Anjelita Mutiara Windari yang lahir di kota Hujan. Iya, kota Hujan atau lebih tepatnya Bogor. Aku lahir pada tanggal 8 Desember 2004. Orang-orang biasa memanggilku dengan berbagai nama dari Anjelita, Anjel, Jelii, Enjeli, Ita, Dede, Kiting dan Lele. Ketika kalian baca cerita ini, kalian bebas memanggil namaku apa saja. Aku anak ke-2 yang lahir dari sepasang suami-istri yang perkenalannya cukup singkat yaitu 3 bulan. Dan mereka bernama Arief Widaryanto dan Maya Sundari.
Namaku Arshandi Yafi. Kalian bisa memanggilku, Yafi. Saat ini aku berusia 17 tahun. Aku lahir di Bogor pada tanggal 1 Mei 2005. Aku adalah anak kedua dari dua bersaudara. Dalam tulisan ini aku akan bercerita mengenai masa kecilku dari TK hingga sekarang.
Namaku Dheariani Safitri, biasa dipanggil Dhea. Aku dilahirkan pada tanggal 5 Desember 2004 di salah satu rumah sakit swasta yang ada di Jakarta. Aku adalah anak pertama dari pasangan Eni Marheni dan Dedy Setiawan.
Pada hari Senin, 28 Maret 2005 pukul 03.00 WIB aku hadir di dunia ini setelah berjam-jam kedua orang tuaku menungguku keluar dari perut ibuku. Kata ibuku, aku lahir dengan sangat mudah, tanpa hal-hal yang mengulur waktu kelahiran.
Pada hari Senin 21 Maret 2005, di sebuah rumah sakit Harapan Cipta di Jakarta seorang wanita hebat bernama Ninik Priharini sedang berjuang melawan sakit demi melahirkan putri pertamanya Elvira Tsaabitah Prima Basuki, dan ditemani oleh sang suami tercinta, Basuki Rakhmat. Suasana saat itu sangat tegang karena mereka sudah menunggu berjam–jam namun putri mereka belum lahir juga. Lalu setelah penantian 10 jam lamanya akhirnya pada pukul 10.00 pagi, putri mereka pun resmi lahir ke dunia ini.
Pada hari Selasa, 17 Mei 2005 aku lahir ke dunia, di salah satu rumah sakit ternama di kota Bogor. Aku anak pertama dari pasangan yang berasal dari Malang yang mempunyai perbedaan 4 tahun dan kami sekeluarga tinggal di Cibinong sampai saat ini.
Tangerang, 27 Juli 2005 suatu keluarga diberkahi seorang anak laki-laki yang sehat. Anak tersebut adalah aku. Dengan tinggi dan berat badan yang bisa dibilang ideal untuk seorang bayi baru lahir aku dilahirkan. Setelah aku lahir, ibuku langsung merasa lega. Aku dinamakan Ferdinan oleh kedua orang tuaku.
Namaku Hana Rohadianita Altaf, biasa dipanggil Hana. Aku adalah anak perempuan pertama, cucu perempuan pertama di keluargaku. Aku lahir pada tanggal 28 Agustus 2005 di rumah sakit Salak kota Bogor. Lahir dari sepasang suami-istri yang menikah pada tahun 2003.
Pada hari Rabu malam di tanggal 20 Oktober 2004 lahirlah seorang anak laki-laki yang Bernama I Made Yudha Widya Putra, yaitu diri saya sendiri.
Nama saya Indan Pranesti atau biasa dipanggil Indan. Saya lahir di Kebumen 16 Juni 2005.
Namaku Ivannya Rahma Aulia yang sering di panggil Vanny. Aku lahir pada tanggal 17 September 2005 di Bogor bertepatan dengan hari Palang Merah Indonesia (PMI).
Perkenalkan namaku adalah Jeremi Laurensius Manurung atau kerap sekali dipanggil Jer dan ini adalah kisahku.
Namaku adalah Khairani Nayla Tsabitha. Aku biasa dipanggil Nayla atau Rani. Aku dilahirkan di Sei Pelakar, Jambi pada tanggal 3 Desember 2004.
Pada hari itu tanggal 8 Agustus tahun 2005 untuk kali pertama aku menghirup udara dunia. Saat itu pukul 00.05 dini hari. Aku tidak kunjung keluar dari perut umi setelah berjam-jam. Bisa kalian bayangkan bagaimana rasa mulas yang umiku rasakan saat itu? Tahu tidak? Alasan mengapa saat itu aku betah sekali berdiam diri di dalam perut umi? Jadi begini, akan kuceritakan kisahku yang belum utuh, setengah perjalananku di dunia ini yang penuh dengan permen warna-warni dan duri-duri tajam.
Namaku Muhammad Aqil Ramadhani. Aku biasa dipanggil Aqil. Saat ini aku berumur 16 tahun yang berarti aku lahir pada tanggal 2 November 2005. Aku adalah anak pertama dari tiga bersaudara, dan aku juga anak yang paling sulit bergaul dengan teman sekelas.
Namaku Muhammad Ilham Dewonoto biasa dipanggil Dewo. Saat ini aku berusia 17 tahun. Aku lahir di Depok pada tahun 18 Mei 2005. Aku adalah anak kedua dari 3 bersaudara. Aku akan bercerita mengenai kehidupanku dari TK hingga sekarang.
Pelajaran yang dapat aku ambil selama 17 tahun aku hidup di dunia ini adalah cepat-cepatlah berubah ketika kamu sudah menyadari ada yang tidak beres. Jangan sampai terlambat karena di kemudian hari akan ada penyesalan. Belajarlah dengan giat, karena memang tugas utama kita saat ini adalah belajar, bukan hanya bermain dan menikmati masa muda karena masih dibiayai oleh orang tua. Pertahankanlah segala prestasi yang sudah kita raih sejak dulu. Jangan sampai prestasi itu hanya menjadi kenangan. Hidup ini memang bukanlah hal yang mudah. Setiap keputusan pasti ada pertanggung jawabannya. Jadi hati-hatilah dalam melangkah dan percaya bahwa kita bisa!
Namaku Nada Ghaisani Hasyim lahir di Jakarta pada tanggal 8 Desember 2005. Pada tahun 2006 aku pindah ke rumah Nenekku di Leuwiliang, Kabupaten Bogor.
Suara dentingan sendok yang beradu dengan piring disusul dengan suara sutil yang beradu dengan wajan pada hari itu memecah keheningan hari Minggu pagi yang tampak tenang. Mama yang sedang sibuk berkutat dengan alat-alat kesayangannya di dapur, mencampur dan menuang ini-itu ke dalam panci di hadapannya. Papa juga sedang sibuk bertukar cerita dengan teman-teman sebayanya di halaman rumah. Bergeser sedikit ke kamar tidur, ada dua raga yang masih bergumul dengan hangatnya selimut dan nyamannya bantal. Kedua kakakku masih meneruskan mimpi-mimpi indah mereka di atas ranjang. Bagai suara alarm yang akan membuat semua orang yang mendengarnya terbangun, suara mama yang berusaha membuat kedua kakakku mengakhiri mimpinya kala itu juga berhasil membuat mereka mengakhiri mimpi indahnya dan terbangun dari tidurnya pagi itu. Matahari mulai meninggi.
Masih banyak lagi kisah yang mengharu biru ditulis oleh para penulis buku ini. Seluruh kisah tersebut memberikan nuansa baru bagi pecinta cerpen tanah air. Kisah yang diangkat dari pengalaman dan kenangan hidup sejak masa kanak-kanak hingga masa putih abu para penulisnya memberikan makna yang unik dan khas. Ada airmata berbalut tawa tipis di ujung penantian. Ada kesulitan di antara kemudahan meraih cita-cita dan impian. Bangganya, mereka mampu menaklukkan rasa sepi, sedih, kesal, dan duka tersebut. Bersama mereka saling mengisi dan menghargai. Sukses selalu, Sang Twesthree. Ditunggu kisah selanjutnya.
Hubungi https://bit.;y/2mn0ZLN
