Antologi: Kepingan Memori Vensciun

Penulis : Peserta Didik XII MIPA 1 SMA Negeri 2 Cibinong – Bogor

QRCBN : 62-839-6565-322

Editor : Neneng Hendriyani

Lay Out : Tim CMJ

Desain Sampul : Hapiah

Cetakan Pertama, Januari 2023

Penerbit

Cakrawala Milenia Jaya

Bumi Karadenan Permai Blok AA8 No.11-12

Cibinong – Bogor Jawa Barat

cakrawalamileniajaya@gmail.com

https://cakrawalamj.co.id

ig: cakrawalamilenia

jumlah halaman ix + 322

Hak Cipta Dilindungi Undang-undang

Antologi “Kepingan Memori Vensciun” hadir di tangan pembaca yang budiman sebagai karya peserta didik Kelas XII MIPA 1 SMAN 2 Cibinong Tahun Pelajaran 2022-2023. Buku ini terdiri dari  teks cerita pribadi yang ditulis oleh peserta didik dengan cara mengawali cerita, isi cerita dan gaya penulisan masing-masing.

Ide penerbitan buku ini berawal pada saat pembelajaran di ruang kelas. Dalam setiap pembelajaran, guru berpatokan pada Kompetensi Dasar (KD). Kompetensi Dasar 4.4 Kurikulum 2013 adalah Menulis Cerita Sejarah Pribadi dengan memerhatikan kebahasaan. (Pembimbing, Helfy Maryamul Ilfa, S.Pd., M.Pd.)

Terdengar sayup-sayup suara derap langkah lalu lalang para perawat membantu pasien yaitu seorang ibu yang sedang berjuang, bersusah payah melahirkan jiwa yang baru ke dunia ini. Di depan ruang bersalin, seorang laki-laki tegap sedang terduduk sembari merapalkan doa agar ibu dan bayi yang akan dilahirkan selamat, ia adalah ayah dari calon bayi tersebut.

Selepas menunggu kurang lebih sepuluh menit, lahirlah seorang bayi perempuan. Banyak pasang mata melihatnya dengan penuh dama. Itulah aku, Adinda Aurora Fatimah Soeryono yang lahir pada hari Kamis di Bogor 9 Juni 2005. Tepat 17 tahun yang lalu aku diberi panggilan Olla oleh kerabatku yang akhirnya menjadi nama panggilan sampai saat ini. Aku memiliki seorang kakak perempuan dengan selisih umur tujuh tahun. (Merangkai Memori Empiris dalam Asmaraloka, Adinda Aurora F.S.)

Masa kecilku dahulu penuh dengan hal-hal unik dan tak terlupakan. Ketika umurku lima tahun aku dengan semangat memulai pendidikan di Taman Kanak-Kanak Azzahra. Saat itu aku mulai memiliki banyak teman dan dikenal sebagai anak yang aktif, karena sering mengikuti banyak kegiatan, mulai dari lomba menggambar, menari, dan fashion show. Seperti anak TK pada umumnya, kala itu segala kegiatan masih terbilang sangat mudah dan ringan untuk dilalui. Dahulu, bahagiaku tidak perlu harus memenangkan perlombaan atau mendapatkan peringkat di kelas, cukup dengan menonton acara televisi di siang hari dan bermain bersama teman-teman saat sore hari saja membuatku merasa senang. (Kepingan Memoriku, Adzra Ghina Alea)

Masa putih abu-abu pun tiba. Namun semua itu tidak berjalan seperti yang  saya bayangkan sebelumnya karena situasi pandemi yang ada. Situasi kami saat itu sangat tidak memungkinkan untuk melakukan pembelajaran tatap muka sehingga masa pengenalan sekolah kami dilakukan dari jarak jauh. Selama melakukan pembelajaran jarak jauh saya mengalami banyak kesulitan. Pembelajaran jarak jauh pun semakin lama semakin membuat saya jenuh. Melakukan pembelajaran jarak jauh sangatlah tidak mudah. Banyak kendala yang saya hadapi. Meskipun masa pandemi cukup menyulitkan namun ada sisi positif yang dapat saya ambil, yaitu saya menjadi lebih banyak di rumah dan bisa menghabiskan waktu bersama keluarga saya. Hal itu membuat saya semakin bersyukur atas semua yang ada. Berkat pandemi ini saya benar-benar dapat menghabiskan banyak waktu bersama keluarga saya. (Kisahku, Aishah Khumaira Farzana)

Di kala sang surya belum menampakkan dirinya sudah ada seorang ibu yang dengan sekuat tenaga bertaruh nyawa untuk melahirkan seorang anak. Tepatnya pada tanggal 26 Juni tahun 2005 lahirlah seorang anak bernama Aldika Galang Jarmananda.Anak itu diberi nama tersebut oleh sang ayah dan sang ibu bukan tanpa tujuan. Setiap kata dari nama tersebut memiliki arti. Aldika mempunyai makna Alhamdulillah dia kembali ada. Ketika sang ibu mengandung anak keduanya ia mengalami sebuah musibah dan anak yang sedang dikandung pun tidak dapat ia lahirkan. Galang mempunyai makna Gagah Lanang mereka menamakan anak itu dengan nama Galang dengan harapan anak tersebut bisa tumbuh menjadi seorang anak laki laki yang gagah. Nama Jarmananda datang kepada sang ibu ketika sedang tertidur di suatu malam yang sangat tenang dan mendapatkannya dalam mimpi. (Kisah yang Masih Berlanjut, Aldika Galang Jarmananda)

Di masa sekolah SMP ini aku pun mewakili sekolahku untuk mengikuti Young Health Program (YHP), yaitu suatu organisasi internasional yang membahas isu tentang hak anak, kesehatan anak, dan lain sebagainya. Aku mengikuti organisasi ini secara aktif dan sangat bersemangat karena di YHP ini aku mendapatkan pelajaran dan pengetahuan yang belum pernah aku ketahui sebelumnya. Aku juga mendapat kesempatan untuk menjadi pembicara dengan mewakili para remaja dalam isu hak anak di salah satu mall terbaik di Cibinong. Aku bangga dapat membawa harum nama sekolahku. Aku pun mendapat kesempatan untuk terlibat dalam pembuatan film dokumenter tentang YHP. Aku juga aktif di Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) serta menjadi kandidat dalam Pemilihan Ketua OSIS. Namun, aku belum beruntung terpilih menjadi ketua OSIS. Aku mendapatkan jabatan sebagai Sekretaris. Tidak mengapa aku tidak merasa kecewa. Justru dengan itu, aku mendapat kesempatan untuk belajar lebih banyak mengenai kegiatan keorganisasian. Di OSIS, aku banyak belajar bagaimana kita menghargai pendapat orang lain, bagaimana cara menyampaikan pendapat dengan baik, dan dapat menuangkan ide-ide kreatif untuk kemajuan sekolah. (Cerita Tentangku, Alica Kinar Deska)

Terlahir dari keluarga yang mayoritas besar berseragam loreng, sejak kecil aku sudah ditempa dengan pendidikan yang mungkin melalui kacamata orang lain terlihat sadis. Pada usia tiga tahun aku sudah diikutkan bela diri dari Negeri Ginseng, yaitu Taekwondo. Kemudian ibuku yang merupakan seorang kutu buku mewariskan tumpukan buku-buku kepadaku; mulai dari buku novel, komik, hingga ensiklopedia. Warisan harta karun dari ibuku itu secara tidak langsung memberiku gelar kutu buku. Sehingga saat menginjak usia kurang lebih lima tahun aku telah menyelesaikan dua buku dari serial fantasi Harry Potter. (Bernapas, Rehat, dan Romantisasi Hidup, Andi Aviramitha Shalimar Sawerannu)

Pada hari Rabu tanggal 9 Februari tahun 2005 lahirlah seorang bayi perempuan  kecil di sebuah kota dengan jumlah penduduk yang tidak sedikit dan dikenal dengan sebutan Kota Hujan, yaitu Kota Bogor. Betapa bahagianya seorang ibu melahirkan bayi perempuan kecil nan imut yang beliau beri nama Aura Titania Hadi, yaitu saya sendiri. Baik di lingkungan keluarga maupun pertemanan, saya akrab dipanggil dengan nama Aura. Nama Aura Titania Hadi memiliki arti bahwa saya dapat memancarkan aura dari diri saya sehingga saya dapat menjadi seseorang yang kuat, tabah, dan tenang. Saya lahir dari seorang malaikat cantik bernama Intan Ferania dan ayah kandung saya bernama Teguh Hadi Sulistiono, dan saya memiliki ayah sambung yang sangat menyayangi saya sampai saat ini bernama Yuniar Kuswarsanto. Saya adalah anak pertama dari tiga bersaudara. (Sebuah Kisah Klasik Untuk Masa Depan, Aura Titania Hadi)

Sejak kecil semua orang di sekitar saya memiliki cita-cita. Entah itu menjadi seorang presiden, memiliki banyak uang, mempunyai banyak penggemar atau masih banyak lagi. Sejak saya menginjak jenjang sekolah, teman-teman saya sudah memiliki gambaran hidup yang mereka inginkan pada masa depan walaupun itu tidak realistis. Pada waktu itu saya sangat takjub mendengarkan impian-impian mereka. Namun, saat saya bercermin yang saya lihat hanyalah seorang pemalu biasa. Pada saat itu saya tidak bisa membayangkan sebuah masa depan di mana saya merasa senang dan bebas. Tetapi hal tersebut tidak bertahan lama. Ini lah cerita perjalanan gadis pemalu itu mencari masa depannya. (Mencari Masa Depan, Darin Ariqa Khairunnisa)

Ketika usiaku sekitar 3,5 tahun aku terjatuh yang menyebabkan kepalaku bocor terkena ujung tangga. Saat itu aku sedang bermain boneka bersama kucing dan tidak menyadari jika tangga sedang licin. Aku terbangun dan tidak merasakan sakit sedikit pun tetapi darah menetes dari jidatku. Aku yang saat itu masih kecil tidak mengerti dan kemudian menghampiri ibuku di ruang keluarga. Sontak saja ibuku sangat shock anak perempuannya datang dengan kepala bocor beserta darah yang mengalir deras dari jidatnya, aku hanya bisa tertawa sambil terus mengelap darah yang tidak berhenti mengalir. (Kisah yang Belum Usai, Desak Nyoman Putri. A. W )  

Tetapi meskipun begitu aku memiliki jiwa berpetualang yang tinggi. Aku senang bermain di luar ruangan. Sifatku yang ini pun tidak luput dari cerita menegangkan. Di bawah panasnya terik matahari yang membakar kulit saat hari Jumat aku diperintahkan untuk tidur siang seperti anak seumuran yang lainnya tetapi dengan bersikukuh aku menolak karena ingin main sendiri di luar ruangan. Hal yang selanjutnya terjadi adalah aku dibawa oleh seorang pemulung, tetapi syukurlah digagalkan karena ayahku yang sedang di dalam rumah berlari keluar setelah menyadari ada yang tidak beres dengan anak gadisnya yang satu itu. (Perpaduan Niskala Dalam Kehidupan, Dessinta Aryani)

Aku pun mulai mengikuti kegiatan ekstrakurikuler yaitu marching band. Aku menjadi pemain pianika juga xylophon. Ekskul marching band ini biasanya digunakan untuk mengiringi lagu pada saat upacara setiap hari Senin. Aku juga sempat satu kali mengikuti lomba marching band sebagai pemain xylophon dan kami mendapatkan juara ketiga. (Teks Cerita Sejarah Pribadi, Dewi Sekar)

Paskibra merupakan kegiatan ekstrakurikuler yang saya ikuti sejak kelas tujuh. Di sekolah saya, para murid diwajibkan untuk mengikuti minimal mengikuti satu kegiatan ekstrakurikuler. Maka dari itu tanpa ragu saya memilih Paskibra untuk kegiatan ekstrakurikuler yang akan saya ikuti. Paskibra Garuda Dua atau Pasgardu adalah organisasi Paskibra di SMPN 02 Cibinong. Di sini saya mendapatkan sangat banyak pengalaman baru. Selain itu, saya juga mengikuti beberapa perlombaan LKBB atau Lomba Ketangkasan Baris Berbaris bersama teman-teman satu pasukan lainnya. Seringkali kami mendapatkan juara pada beberapa perlombaan dan itu membuat saya sangat bangga akan diri sendiri dan teman-teman. (Jurnal Yang Belum Selesai, Didah Azkiya Armondya)

Melihat telinga kananku meneteskan darah aku segera mengemas buku-buku dan tempat tulisku lalu aku segera bergegas menemui kepala sekolah. Aku berusaha tutup mulut tentang kejadian nahas yang menimpa diriku sebelumnya, tetapi setelah di interogasi oleh kepala sekolah akhirnya aku membuka mulut tentang kronologi kejadian ini. Setelah itu, aku langsung dibawa ke rumah sakit umum terdekat dan setelah menunggu beberapa saat akhirnya giliranku lah untuk mendapatkan perawatan berupa jahitan di telinga kananku.

Pada saat proses penjahitan telinga kananku prosesnya sangat menyiksa walaupun sudah disuntik dengan obat bius tapi tetap saja rasa sakit itu masih bisa kurasakan. Aku menangis dan menjerit kesakitan ketika dijahit. Aku benar-benar tidak kuat menahan rasa sakit saat dijahit, benar-benar menyiksa diriku pada saat itu. Namun, beberapa saat kemudian ayahku datang untuk menemaniku. Dan, pada saat itu aku merasa lega karena akhirnya orang tuaku bisa menemaniku. (Teks Cerita Sejarah Pribadi, Dikko Frentzen)

Suatu hari suara tangisan menggema di sekitar ruangan yang berukuran kira-kira 4×4m². Lahirlah seorang anak perempuan bertubuh mungil. kehangatan selimut kecil berwarna biru memeluknya. Kedua orang tuanya memberikan nama anak itu dengan nama Dinda Salsabila. Kata “Dinda” yang memiliki arti anak kesayangan dan “Salsabila” yang berarti diberi kebesaran, teguh dalam pendirian, bijaksana mengambil keputusan, dan dapat memimpin. Semua orang bersuka cita pada hari itu, 17 September 2005 pada pukul 23.45 WIB. Itulah namaku, nama yang berisi doa dan harapan dari kedua orang tuaku. ( Teks Cerita Sejarah Pribadi, Dinda Salsabila)

Selain itu, aku juga mempunyai teman laki-laki bernama Sulton. Setiap pembagian tempat duduk yang diatur oleh guruku, kami bagai api dengan asap. Empat tahun kami duduk bersama, banyak sekali hal kecil yang kami ributkan di setiap harinya. Ia termasuk anak yang menyebalkan dan suka menjahiliku sehingga membuatku kesal, hingga aku memanggilnya dengan sebutan “Bala”, yang berarti banyak tingkah. Sementara dia memanggilku dengan sebutan “Baper” karena aku yang mudah sekali marah terhadapnya. Meskipun begitu, kami suka berbagi keluh kesah bersama, dan saling mendukung satu sama lain. (Lika–Liku Perjalanan Hidupku, Diniah Wulandari)

Orang tua saya selalu berpesan, “Tidak apa-apa tidak berhasil yang penting Kamu sudah berusaha dengan baik dan mempunyai keberanian untuk mencobanya”. Selama 3 tahun saya menimba ilmu dan banyak sekali pelajaran yang saya dapat. Saya sangat senang di kelilingi oleh orang-orang yang sangat saya sayangi. Itu merupakan suatu rasa syukur saya karena masih bertemu dengan teman-teman yang baik. (Teks Cerita Sejarah Pribadi, Dwi Pawestri)

Biasanya sepulang sekolah ibuku akan menjemputku dari sekolah. Jika di rumah tidak ada pengasuh, ia akan membawaku dan adikku pergi ke kantornya. Dikarenakan aku dan adikku hanya berselisih satu tahun kami bagaikan anak kembar yang tak dapat dipisahkan, bahkan tidak sedikit juga yang mengira bahwa kami adalah anak kembar. Pernah suatu hari ibu tidak membawa kendaraannya ke kantor, dan kami harus menggunakan kendaraan umum untuk bisa kembali ke rumah. Dikarenakan cuaca yang tidak mendukung, rintikan hujan mulai menyapa di sore hari itu. Ibu yang tidak ingin kami terkena flu, melindungi kami dengan memasangkan kain pada masing-masing kepala kami hingga membuat seorang ibu yang berada dekat dengan kami,bertanya jika kami adalah anak kembar. Ibuku terkekeh menanggapi pertanyaan itu. Dan, aku tidak begitu mendengar apa yang mereka bicarakan selanjutnya. Perjalanan menuju rumah masih sangat jauh dan matahari sudah digantikan bulan. Aku dan adikku yang kelelahan memilih untuk tertidur dalam pelukan hangatnya. (Memori yang Berputar, Ghinaandhiyaa Pradja Wibowo)

Tahun demi tahun pun berganti. Di penghujung tahun 2019 menuju 2020 terjadi peristiwa besar yang mengubah hidup kami semua. Kemunculan kasus COVID-19 pertama kali menjadi awal pandemi di seluruh dunia. Seluruh sekolah, kantor dan tempat-tempat wisata ditutup untuk mencegah terjadinya kenaikan kasus COVID-19, termasuk MTs Negeri 3 Bogor tempatku bersekolah. Awalnya diumumkan bahwa sekolah hanya akan diliburkan selama 2 minggu, tetapi kenaikan kasus COVID-19 yang semakin parah menyebabkan libur diperpanjang. Akhirnya, aku dan teman-temanku yang tengah berada di tahun terakhirku di sekolah menengah pertama (SMP) batal mengikuti ujian akhir sekolah dan ujian nasional sebagai syarat kelulusan. (Diari Hidupku, Hana Zahra Anabela)

Sekolahku yang baru merupakan sekolah alam, kelasnya didesain seperti pondok atau saung. Terdapat kolam ikan yang besar, serta kebun yang ditanami berbagai macam tanaman, tak lupa kandang sapi dan ayam turut menghiasi pekarangan belakang sekolah. Di sekolahku ini pula aku menemukan jiwa petualang. Setiap hari Jum’at selepas shalat Duha selalu diadakan kegiatan di luar ruangan, seperti tracking sawah, autbond, hingga flyfox. Setiap tahun juga diadakan super camp di mana kami menginap tiga hari dua malam di hutan khusus bagi kelas 4, 5, dan 6. Tidak lupa pula Peradaban Festival yang merupakan sebuah acara perlombaan besar di mana mengundang banyak sekolah di kota Serang dari tingkat SD hingga SMA. Hari-hariku di sana dilalui dengan penuh kegembiraan dan petualangan baru. Aku pun pulang membawa seribu cerita yang selalu aku ungkapkan kepada kedua orang tuaku. (Euonia yang Menciptakan Baswara, Hiya Naura Aini)

Rasanya ingin kuputar balikan waktu untuk mengenang masa kecilku. Namun yang namanya manusia pasti harus berkembang dan beranjak lebih dewasa. Sejak SMP aku belum aktif dalam organisasi. Namun entah mengapa pada saat kelas 1 SMA aku berpikir ingin mengikuti sebuah organisasi karena menurutku apa salahnya keluar dari zona nyaman dan mencoba hal baru. Menurutku, banyak sekali kelebihan yang akan aku dapat jika aku mengikuti sebuah organisasi di SMAVO. Pada saat itu, OSIS SMAN 2 Cibinong membuka sebuah open recruitment bagi siswa-siswi baru. Langsung saja aku mendaftarkan diriku di OSIS SMAN 2 Cibinong karena kebetulan kakakku juga pernah menjabat di OSIS SMAN 2 Cibinong. Banyak sekali ilmu-ilmu yang kudapat dari kakakku tentang open recruitment, mulai dari membuat video perkenalan, tata cara wawancara yang baik dan benar, dan masih banyak lagi. (Keluar Dari Zona Nyaman, Keia Tirta)

Aku merupakan anak kedua dari tiga bersaudara yang memiliki seorang kakak perempuan dan adik perempuan. Hal itu menjadikan ayahku sebagai seorang pria satu-satunya di keluargaku. Meskipun aku bukan anak sulung atau cucu pertama dalam keluarga, kehadiranku amat sangat dinantikan. Dahulu, nenekku sangat mendambakan seorang cucu nan mungil yang berkulit sawo matang, rambut berwarna hitam pekat tetapi lurus dan lebat bak hutan rimba. Keinginan nenekku itu dijawab oleh Tuhan Yang Maha Esa dengan kehadiranku. Kesenangan juga dirasakan kakakku karena ia akhirnya memiliki seorang teman di keluarganya. Ia selalu berdoa agar diberikan seorang adik perempuan yang dapat diajak bermain boneka bersama. (Goresan Tinta Kehidupan, Khairuna Nofitriani)

Karena selama berada di TK aku menggunakan antar-jemput sebagai transportasi dan rumahku cukup jauh dari sekolah aku sudah berkunjung ke berbagai tempat di sekitar Cibinong karena mengantar teman-teman yang berada di dalam antar-jemput yang sama. Aku memiliki beberapa teman dekat selama di TK. Mereka adalah Dania, Fattan, Firly, Putri, dan Sekar. Kami sering bermain bersama di playground saat jam istirahat dan juga sering bersama bila ada acara di luar sekolah, misalnya saat jalan-jalan ke Ancol. (Ragam Warna Kehidupanku, Khalda Salsabila)

Lembaran Hitam Putih Hidupku   214

Mazaya Raini Nurmaliza 

Jejak Menuju Maturitas  224

Nadira Basilla Firmansyah  

Senandika Seorang Wanodya  234

Nesha Oktaviana 

Wisata Kenangan   245

Nurul Ramadhani Putri

Kenangan Manis yang Penuh Pelajaran   256

Olsyen Akbar Pramudya Ananda 

Kisahku   263

Pandu Rahmadhani Tahir 

Goresan Jiwa di Atas Aliran Memori 271

Puti Rania Faiza 

Ini Manis Saat Aku Mengingatnya  278

Sany Nur Imammah  

Narasi Lampau yang Berkilau   288

Shakila Natasya 

Tangga Kehidupan   296

Sigit Ramadhan  

Tentang Diriku   304

Tasya Lailatuzzahra 

Memutar Kembali Masa Lampau   314

Valerina Hanna.S 

Untuk informasi lebih lanjut

Lentera Kehidupan : Sehimpun Puisi Akrostik

Penulis: Dhika Cahya Ramadhan [et al]
ISBN : 978-623-6581-44-5
Penyunting: Kokom Komara (Umi)
Lay out: Neneng Hendriyani
Desain Sampul: Cahsantri
Cetakan Pertama, Februari 2022
Penerbit
Cakrawala Milenia Jaya
Bumi Karadenan Permai Blok AA8 No.11-12
Cibinong – Bogor Jawa Barat
cakrawalamileniajaya@gmail.com
https://cakrawalamj.co.id
IG: cakrawalamilenia
Jumlah halaman xviii+80

Lentera Kehidupan: Sehimpun Puisi Akrostik (sumber: Dokumentasi CV Cakrawala Milenia Jaya)

Penulis:
Siswa dan orang tua kelas VI C SDN Sawahkulon
Editor:
Kokom Komara
Supervisor:
Elia Heryanah (Kepala Sekolah SDN Sawahkulon)
Guru-guru SDN Sawahkulon
Ade Nana.R
Sohibudin
Asep Robby
Siti Nani Sumirah
Dedi Mulyadi
Maya Sari Nurdin
Yuri Kristie Yanuari
Heti Nurhayati
Dwi Yayu Purwanti
Endang Saepudin
Cecep Rudi Hartono
Eti Susilawati
Yayat Suryati
Tuti Sumiati
Nurhabibah
Ai Siti Supriatin
Dewi
Dena
Yeni
Evi Nafisah
Yayah
Tutty Mardini

Buku Kumpulan Puisi dan Cerita Akrostik siswa kelas VI C SDN Sawahkulon yang berjudul “Lentera Kehidupan” ditulis oleh 26 siswa dan 26 orang tua. Kesederhanaan isi buku ini sengaja dibuat original supaya terlihat keasliannya. Bahasa yang digunakan merupakan bahasa anak yang dituliskan sesuai isi hatinya. kalimat yang digunakan juga berkisar pada kehidupan keseharian siswa, baik waktu bermain, olahraga, kasih sayang orang tua, dan rasa syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Walaupun di sana-sini masih banyak kekurangan tetapi kami sangat berharap buku ini merupakan sebagai bentuk penghargaan dan motivasi kepada siswa agar lebih giat dan menyenangi kegiatan tulis-menulis.
Puisi Akrostik mudah dipelajari dan sesuai bagi siswa

Sekolah Dasar dalam belajar membuat puisi. Kekhasan puisi Akrostik adanya penggunaan huruf awal pada setiap larik yang harus sesuai dengan huruf-huruf pada judul puisi yang disusun secara vertical. Puisi Akrostik telah dikenal sejak jaman Yunani Kuno, sebagai bentuk puisi yang disukai pada saat itu. Para penulis terbantu dalam menulis puisi yang sarat makna, sekaligus memiliki nilai keindahan, baik unsur diksi maupun unsur imaji. Karena puisi Akrostik membimbing proses emotif, kognitif, estetik, dan artistic.


Kehadiran buku ini semoga dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan literasi di SDN Sawahkulon. Menurut DR, H. Purwanto, M.Pd sebagai kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Purwakarta dalam sambutan buku “Purnama Merindu” mengatakan bahwa: “Literasi tidak bisa dilepaskan dalam dunia pendidikkan. Literasi merupakan bagian dari kompetensi Pendidikan abad-21. Literasi menjadi sarana semua warga sekolah dan dunia Pendidikan dalam mengenal, memahami, dan menerapkan ilmu pengetahuan, keterampilan, dan budi pekerti, sebagai wujud keberliterasian adalah kemampuan menulis karya dalam bentuk buku.”

Pasawahan, 16 Januari 2022
Penyusun
(Guru kelas VI C SDN Sawahkulon)
Kokom Komara
(Umi Komara)

Pola pembelajaran yang berubah dari tatap muka menjadi BDR berdasarkan simulasi dapat menyebabkan learning loss peserta didik lebih besar pada penurunan kemampuan akibat libur sekolah. Selain itu, kesenjangan capaian belajar yang disebabkan oleh perbedaan akses dan kualitas selama PJJ, terutama untuk peserta didik dari sosio-ekonomi menengah bawah. Pada masa pandemi COVID-19 ini menunjukkan sedikit atau pun tidak ada kemajuan saat BDR dimana learning loss paling menonjol berada pada peserta didik yang kondisinya kurang beruntung. Dengan adanya buku ini Guru Kelas VI C mencoba menggiring siswa ke arah yang kreatif dengan mengembangkan daya imaji siswa yang ditorehkan dalam bentuk tulisan dengan tujuan mengurangi learning loss keadaan yang dialami siswa. Selamat kepada kelas VI C, terus berkarya untuk Sekolah kita.
Kepala SDN Sawahkulon
Hj.Elia Heryanah,S.Pd

Kegiatan literasi kelas sebenarnya adalah bagian dari kegiatan literasi sekolah, identik dengan aktivitas membaca dan menulis. Gerakan Literasi Sekolah dikembangkan berdasarkan Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti, yang bertujuan untuk menjadikan sekolah sebagai taman belajar yang menyenangkan bagi siswa, guru dan tenaga kependidikan Permendikbud No.23 tahun 2015).
Buku lentera Keehidupan yang ditulis oleh siswa kelas VI C SDN Sawahkulon merupakan suatu usaha atau kegiatan yang bersifat partisipatif dengan melibatkan Sekolah, orang tua/wali murid peserta didik dan penerbit dengan dukungan kolaboratif. Upaya yang ditempuh untuk mewujudkannya berupa pembiasaan membaca peserta didik. Pada tahap pengembangan, dan pembelajaran. Variasi kegiatan dapat berupa perpaduan pengembangan keterampilan reseptif maupun produktif. (Desain Induk

Gerakan Literasi Sekolah, Selamat kepada anak-anak kelas VI C beserta orang tua yang sudah berhasil membukukan karyanya. Smoga akan lahir-buku-buku selanjutnya karya siswa dan guru.
Pengawas Bina SD
Kacamatan Pasawahan
Hj.Ida Hidayah Ariani,S.Pd

Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) adalah kegiatan belajar mengajar antara pendidik dan peserta didik dengan lokasi terpisah sehingga memerlukan system telekomunikasi interaktif untuk menghubungkan keduanya dan berbagai sumber daya yang diperlukan di dalamnya. Saat ini PJJ dilakukan melalui berbagai media seperti Google Meet, Zoom Cloud Meeting, Cisco Webex, dan lain sebagainya. Glosarium Belajar dari Rumah (BDR) adalah kebijakan pendidikan tentang peralihan pembelajaran tatap muka di satuan pendidikan menjadi pembelajaran di rumah akibat Pandemi COVID-19. Buku Sehimpun Puisi dan cerita Akrostik yang di tulis oleh 26 siswa kelas 6 c SDN Sawahkulon yang di gagas oleh guru kelas VI C ibu Kokom Komara, S.Pd.,M.Pd (Umi,K) merupakan bentuk Pembelajaran Jarak Jauh dengan memanfatkan media WhatsApp. Selamat kepada siswa kelas 6 C yang kreatif menuliskan karya sebagai bentuk kegiatan Literasi yang semakin berkembang di SDN Sawahkulon.
Pasawahan, 16 Januari 2022
Korwil VI
Ayi Engkar Kosasih, S.Pd.,M.Pd

Pembelajaran Teks Bahasa Inggris pada PJJ dan PTM (Procedure, Recount, Descriptive, dan Explanation)

Pembelajaran Teks Bahasa Inggris pada PJJ dan PTM (Procedure, Recount, Descriptive, dan Explanation)

Hak Cipta Dilindungi Undang-undang

All Right Reserved

Penulis: Sri Mukmini, Neneng Hendriyani, Erna Pujiasih, Soraya Putri Hasibuan

ISBN : 978-623-6581-12-4

Editor: Neneng Hendriyani

Lay out: Tim CV

Desain Sampul: Cahsantri

Cetakan Pertama, April 2021

Sumber: Dokumentasi CV Cakrawala Milenia Jaya

Mengajarkan teks kepada peserta didik seringkali tidak semudah melihat dan membaca teks secara langsung. Meskipun teks hanya berisi kumpulan kata, tanda baca dan informasi tidak semua orang lantas paham dengan semua yang diuraikannya.

Ada yang harus menyipitkan kedua mata guna menemukan makna dari kata-kata yang dicetak miring. Ada pula yang mengernyitkan dahi lantaran bingung mencari informasi yang tersembunyi di antara kata-kata. Bahkan ada yang berkunang-kunang lantaran tidak cekatan dalam menemukan perubahan bentuk kata kerja, persamaan kata, perbedaan kata, struktuk teks, dan unsur kebahasaan yang dikandung oleh suatu teks. Ada yang harus membacanya berulang kali agar paham dengan seluruh isi teks yang dibaca. Ada juga yang hanya membacanya selewat lalu ditinggalkan karena tidak tertarik dengan isinya.

Permasalahan di atas adalah segelintir permasalahan yang seringkali dihadapi juga oleh peserta didik kita di dalam kelas bahasa, terutama kelas bahasa Inggris. Rendahnya tingkat kosa kata seringkali dituding sebagai biang kerok dari masalah tersebut. Sebenarnya tidak lah demikian. Kesulitan peserta didik dalam memahami teks tidak hanya disebabkan oleh rendahnya kosa kata yang dimiliki tetapi juga oleh ketidakmampuan guru dalam membantu mereka memahaminya dengan baik. Guru yang baik adalah guru yang berhasil membuat peserta didiknya paham teks yang dibacanya. Dia haruslah menjadi contoh sekaligus teladan bagi peserta didiknya dalam menganalisis teks tersebut guna mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Selain itu, dia pun haruslah mampu membuat mereka tidak mudah bosan saat mempelajarinya baik di rumah (PJJ) maupun di kelas (PTM).

Melalui buku Pembelajaran Teks Bahasa Inggris pada PJJ dan PTM (Procedure, Recount, Descriptive, dan Explanation) para penulis ingin berbagi pengalaman bagaimana mengajarkan masing-masing teks berbahasa Inggris pada pembelajaran jarak jauh dan pembelajaran tatap muka. Sebelumnya penulis menguraikan masing-masing definisi, fungsi sosial, jenis teks, struktur teks, unsur kebahasaan, contoh teks sebelum pada akhirnya menjelaskan langkah-langkah yang perlu dilakukan saat mengajarkannya.

Pembelajaran yang dilakukan pada pembelajaran jarak jauh jelas berbeda dengan pembelajaran tatap muka. Dari segi waktu, tingkat konsentrasi, dan kontrol guru membuat peserta didik makin kesulitan dalam belajar menganalisis suatu teks. Diperlukan strategi dan penanganan khusus dalam mengajarkannya. Dengan kehadiran buku Pembelajaran Teks Bahasa Inggris pada PJJ dan PTM (Procedure, Recount, Descriptive, dan Explanation) semoga hal tersebut dapat teratasi dengan baik.

WARNA WARNI PJJ: ANTOLOGI PEMBELAJARAN JARAK JAUH

Kontributor Naskah

Iso Suwarso

Yulianti

Iing Felicia

Sri Mukmini,S.Ag.

Pietra Dorand

Kusmiati Umar Syarif

Rahma Dewi Hartati, M.Pd.

Tuti Suryati

Elin Herlina

Titin Sutinah, S.S., M.Ed.

Suryani, S.Pd

Ari Susanah, S.Pd

I Kadek Widya Wirawan, S.Pd.

Ni Wayan Eko Yuliyastuti, S.Pd.

Erna Puspita, S.Pd.

Enar Sumartini

Dina Ardianti, S.Pd., M.Si.

Neneng Hendriyani, M.Pd.

Nuraini, S.Pd

Nur Cholifah

Nur Rochmawati, S.Pd.

Agus, S.Pd.

Revi Restiani Janwar, S.Pd

Penulis: Iso Suwarso dkk

ISBN : 978-623-6581-07-0

Editor: Neneng Hendriyani

Desain Sampul & Layout Cover Dalam: Gusliani

Cetakan Pertama, Februari 2021

Penerbit

Cakrawala Milenia Jaya

Bumi Karadenan Permai Blok AA8 No.11-12

Cibinong – Bogor Jawa Barat

cakrawalamileniajaya@gmail.com

Buku ini dipersembahkan untuk semua Pejuang Pendidikan yang gigih berjuang di masa pandemic Covid-19

Buku ini adalah hasil karya guru, mahasiswa, dan pemerhati pendidikan yang tergabung dalam grup WhatsApp “Pena Ajaib”. Para penulis dalam buku ini sepakat mengabadikan buah pikir, informasi, wawasan, dan pengalaman berharganya selama pelaksanaan kegiatan #BDR #BelajarDariRumah #PembelajaranJarakJauh tahun pelajaran 2019/2020, 2020/2021.

Pembelajaran jarak jauh yang penuh dengan problematika ini ditulis dengan berbagai gaya. Ada yang menulisnya dalam bentuk narasi. Ada pula deskriptif. Bahkan tidak sedikit yang memaparkannya dalam bentuk eksposisi. Apa pun itu semua sama-sama berusaha memberikan gambaran yang utuh dan jelas terhadap kegiatan yang telah dilaksanakan tersebut.

Buku ini menjadi bukti fisik betapa semua guru dari Sabang hingga Merauke patuh dan taat kepada panggilan tugas yang diembannya selama pandemic Covid19. Dengan mengandalkan beragam kompetensi  mereka telah berjibaku sedemikian hebatnya demi tetap menyalakan terang bagi anak-anak bangsa.

Menulis seringkali dianggap kegiatan yang tidak menyenangkan dan tidak keren. Banyak sekali yang beranggapan ini adalah kegiatan yang tidak membawa dampak positif bagi penulis dan pembacanya. Hal ini karena beranggapan bahwa menulis tidak mudah dilakukan. Hanya buang-buang waktu dan tidak membawa dampak signifikan seperti yang diharapkan.

Namun, bagi anggota grup WhatsApp “Pena Ajaib” menulis adalah kegiatan yang sangat baik dan positif. Selain dia bisa memberikan manfaat secara finansial dia pun bisa memberikan manfaat secara nonfinansial. Seperti, kepuasan batin.

Dengan menuliskan berbagai hal yang dialaminya terutama semasa pandemik ini, para penulis dalam Grup WhatsApp “Pena Ajaib” merasa bebas menyuarakan buah pikir, wawasan, informasi, dan pengalaman yang diperolehnya dalam bentuk tulisan. Mereka pun bahagia saat tulisan yang sudah ditulisnya itu dibaca, dipahami, dan dijalankan oleh para pembacanya. Mereka meyakini bahwa semua yang mereka tulis memberikan banyak manfaat untuk para pembaca. Itulah sebabnya mereka bersemangat sekali menyelesaikan buku ini secara bersama-sama.

Seperti yang kita ketahui bersama bahwa sejak sekolah dilaksanakan dari rumah masing-masing, praktis guru menjadi ujung tombak keberhasilan pendidikan. Tak peduli di mana dia tinggal, dia tetap mengajar. Tak peduli fasilitas yang dimilikinya seringkali tidak memadai dia tetap mencari cara untuk memberikan pengajaran kepada murid-muridnya. Dia bagaikan lilin yang rela memberikan cahaya meskipun membakar tubuhnya sendiri.

Inilah yang ingin disampaikan oleh para penulis dalam buku berjudul Warna Warni PJJ Tanah Air (Antologi Pembelajaran Jarak Jauh).

Daftar Isi

Membumikan Pembelajaran Jarak Jauh Yang Berkarakter (Sebuah Refleksi)

Proses Pembelajaran Jarak Jauh oleh Pejuang dari Ujung Selatan Kota Cilegon

Warna Warni Pembelajaran Jarak Jauh

Uniknya Pembelajaran Jarak Jauh di Masa Pandemi

Evaluasi Pembelajaran Jarak Jauh selama Pandemi COVID-19

Padlet Ilmu Pelet yang Bisa Mengukur

PJJ di Mataku

Sisi Lain PJJ Yang Menguras Emosi

Senyum Manis dari Ciamis

Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) di Masa Pandemi

“Karena PJJ, Guru melawan Gaptek”

Catatan Nurani Dalam Pelangi PJJ

Menghilangkan Kejenuhan Peserta Didik Dengan Media Game Educandy Pada Masa Pembelajaran Jarak Jauh

Pengalaman Mengajar Daring Via Google Classroom Pada Masa Pembelajaran Jarak Jauh

Aplikasi Quizizz untuk PJJ

Wali Kelas di Masa PJJ

Nano-Nano Rasa PJJ

Dalam Mengajar Listening Comprehension Pada Masa Pandemi Covid19

Kami Terpaksa Mencintai Moodle

PJJ Daring Luring Exciting

Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ)

Pelaksanaan Metode Pembelajaran Baru Pada Masa Pandemi Covid-19 Melalui Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ)

Pembelajaran Seni Budaya Jarak Jauh Di Era Pandemi