Sehimpun Akrostik: Rona Kuliner Nusantara

Cover Sehimpun Akrostik: Rona Kuliner Nusantara (Dok. CMJ)

Karya                                                                                                     

Iyus Yusandi, Yanti Mandalliyana, Imas Fatimah, Eulis Waliah, Rendra Bagus Cahyono, N. Evi Susantika, Hasanah, Dadan Sumardana, Asri Utami, Hani Rohani, Nawangsih,       Euis Citarasa, Elis Sulastri, Maria Ulfah, Erum Rumiasih,        Rani Puspitasari, Sartikah, Iis Patimah, Iis Suminar, Nurlaela,     Ahmad Hidayat, Nunuk Marsiti, Reni Rostiani, Tika Supartika, Ade Sumarna, Tuti Susilawati, Aini Mardiyah, Rekyan Setiati, Euis Cucu Sukmanah, Jei Sobarry Buitenzorg

Antologi: Sehimpun Akrostik Rona Kuliner Nusantara

Penulis                          :   Keluarga Asmaraloka KPPJB

QRCBN                       :    62-839-8611-375

Editor                          :   Drs. Iyus Yusandi, M.Pd.

Lay out                         :   Drs. Iyus Yusandi, M.Pd.

Desain Sampul              :   Hapiah

Cetakan Pertama, Januari 2023

Penerbit

Cakrawala Milenia Jaya

Bumi Karadenan Permai Blok AA8 No.11-12

Cibinong – Bogor Jawa Barat

Cakrawalamileniajaya@gmail.com

Https://cakrawalamj.co.id

IG: cakrawalamilenia

Jumlah halaman  xi+ 211  halaman; 14 cm x 20 cm

Hak Cipta Dilindungi Undang-undang

Buku ini berisi kumpulan puisi yang diawali kegiatan pelatihan di kelas daring. Kelas Menulis Puisi Akrostik ini diciptakan sebagai wujud bentuk kreativitas. Wujud kreativitas ini  oleh salah seorang rekan sesama penulis, yaitu saudara Drs. Iyus Yusandi, M.Pd,  dinamai Kelas Asmaraloka KPPJB.

Upaya pengembangan salah satu bentuk kreativitas ini, semoga dapat menambah wawasan literasi Nusantara dan dipelajari oleh khalayak ramai sehingga menjadi bagian sebuah warna karya kontemporer dunia.

Keleluasaan tema ini juga sebagai upaya agar penulis, terutama guru, memiliki banyak kesempatan menulis sebuah karya. Selayaknya guru di Indonesia perlu membuat dan membukukan karya tulisnya, sebagai teladan sekaligus demi menumbuhkan animo siswa pada kepenulisan.

Buku yang Anda pegang ini adalah salah satu karya sastra para guru yang ditulis dalam rangka mendokumentasikan gagasan yang mereka pikirkan dalam bentuk kumpulan karya puisi. Sebagai Guru, begitu banyak hal yang dialami. Di tengah kesibukan mereka sebagai pendidik anak bangsa, mereka meluangkan waktu untuk menulis. Sungguh suatu tindakan terpuji yang patut diteladani kita semua.

Info lebih lanjut hub

Goresan Pena Berpantun

Ini adalah buku yang kesekian kalinya ditulis oleh seorang guru Sekolah Dasar di Purwakarta, Jawa Barat, Aas Wastinah.

Buku ini berisi kumpulan pantun yang cocok untuk semua usia. Jenis pantun yang terdapat pada buku ini adalah Pantun Religi, Pantun Pepatah, Pantun Kiasan, Pantun Cinta, Pantun Peribahasa, Pantun Jenaka, Pantun Teka Teki, Pantun Anak.

(Cover Depan Buku Goresan Pena Berpantun, sumber: cv cakrawala milenia jaya)

Goresan Pena Berpantun

Penulis : Aas Wastinah

QRCBN:  62-839-2680-663

Penyunting: Kokom Komara

Lay out: Neneng Hendriyani

Desain Sampul: Cahsantri

Cetakan Pertama, Agustus 2022

Penerbit

Cakrawala Milenia Jaya

Bumi Karadenan Permai Blok AA8 No.11-12

Cibinong – Bogor Jawa Barat

cakrawalamileniajaya@gmail.com

https://cakrawalamj.co.id

Ig: cakrawalamilenia

iv + 68  halaman; 14 cm x 21 cm

Berikut ini beberapa pantun yang ditulisnya pada buku ini.

    1. Laut kekeringan tanpa air

        Gunung menjulang tanpa tumbuhan

        Hidup akan hampa tanpa dzikir

        Kemajuan tanpa keberkahan

     2. Badan bertemu tak ada rintang

         Beban dijunjung atas kepala

         Bulan Ramadhan segera datang

         Berlomba yuk meraih pahala

    3. Bikin jembatan berbahan baja

        Beralaskan beton tahan lama

        Kemerosotan akhlak remaja

        Kembali ke ajaran agama

Untuk pemesanan hubungi https://2mn0ZLN

Mendayung Asa: Sehimpun Puisi Akrostik

Penulis                 : Rekyan Setiati

Editor                    : Iyus Yusandi

Lay out                 : Neneng Hendriyani

Desain Sampul  : Cahsantri

Cetakan Pertama, Juli 2022

Kecintaan seorang Rekyan Setiati terhadap puisi telah ia tunjukkan pada Sehimpun Puisi berjudul “Mendayung Asa”. Karya Rekyan Setiati ini buah pena tunggal sebagai wujud dari buah perenungan, penghayatan, dan kristalisasi dari nilai-nilai kehidupan yang masuk ke ruang kontemplasinya. Pandangan dan kesan-kesan ibu Rekyan Setiati terhadap setiap fenomena yang ditemukannya telah ia ejawantahkan dengan bahasa yang lancar, fluent, dan mengalir. Hampir tidak ditemukan puisi yang rumit dan sulit dipahami. Setidaknya, karya Rekyan Setiati ini terbebas dari masalah yang sering dikeluhkan pembaca puisi. Hal ini secara sadar dan sengaja dilakukannya dengan harapan, karya-karyanya ini dapat menginspirasi dan memotivasi para pembaca.

Seorang Rekyan Setiati memiliki rasa haus menggali ilmu, sehingga ilmu yang diperolehnya terekspresikan dalam tulisan Rekyan Setiati yang terdiri dari Dalam Aksara, Sedekah Puisi, Akrostik Satukan Kalbu, Sedih, Berbisik ke Bumi, dan lain-lain.

Begitu nyata unsur-unsur puisi pada deret baris akrostik Mendayung Asa. Seolah pembaca berada dalam kisah yang tersaji di dalamnya. Puisi Mendayung Asa begitu hidup dan nyata. Pandailah Rekyan Setiati menghidupkan sebuah puisi.

Satu hal yang spesial dari antologi ini adalah 98 judul Akrostik. Dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Ibu Rekyan Setiati sebagai penulis menyajikan dan memberi warna puisi dalam Mendayung Asa ini. Puisi sebanyak itu, ditulisnya dalam tempo yang relatif singkat. Mendayung Asa ditulisnya tak kurang dalam tiga bulan. Inilah pentingnya mengenal sosok Rekyan Setiati, karena kepiawaiannya dalam hal menulis puisi.

Di mata saya, ibu Rekyan Setiati ini seorang ibu rumah tangga yang luar biasa. Saya kagum atas produktivitasnya yang tinggi dalam menulis. Sebagai seorang ibu rumah tangga, tak kurang kesibukannya dalam mendidik dan mengasuh anak. Di selakesibukannya masih sempat meluangkan dan mencuri waktu untuk menulis. Pasti lelah. Tapi semua itu dikalahkannya dengan tekad yang kuat dan kerja keras. Saya membanggakan ibu Rekyan Setiati.

Sebagai seorang ibu di rumah tangganya, produktivitasnya ini hendaknya jadi teladan bagi semua ibu rumah tangga. Seolah-olah terngiang pesannya, betapa pun sibuk, pasti ada waktu luang untuk berkarya. Jangan jadikan kesibukan sebagai alasan untuk tidak berkarya.

Selamat, Bu Rekyan Setiati!

Maju terus, berkarya terus!

@ salam takjim dari Iyus Yusandi di Taman Asmaraloka KPPJB

Untuk pembelian hubungi Bumori53

Jendela Juli : Sehimpun Puisi Akrostik

Penulis                  : Siti Aisyah, S.Pd.

QRCBN                :  62-839-2382-236

Editor                    : Iyus Yusandi

Lay out                 : Neneng Hendriyani

Desain Sampul  : Cahsantri

Cetakan Pertama, Juli 2022

Penerbit

Cakrawala Milenia Jaya

Bumi Karadenan Permai Blok AA8 No.11-12

Cibinong – Bogor Jawa Barat

IG: cakrawalamilenia

email : cakrawalamileniajaya@gmail.com

Cover Jendela Juli

Buku ini berisi 80 puisi akrostik yang sarat makna. Puisi yang ditulis benar-benar curahan hati, pikiran, harapan sang penulisnya yang juga berprofesi sebagai guru.

Selain menulis buku ini, penulis juga pernah mengabadikan karyanya dalam beberapa buku antologi puisi, yaitu:

Antologi Puisi – Edelweis (2020)

Antologi Puisi – Aksara Jiwa (2020)

Antologi Puisi – Untaian Bait Cerita Rasa (2022)

Antologi Puisi – Untaian Bait Zamrud Khatulistiwa (2020)

Antologi Puisi – Relung Hati (2020)

Antologi Puisi Tanka & AktoTanka – Secangkir Kopi Rindu (2020)

Antologi Puisi Akroedian – Petaka Corona (2020)

Jendela Juli adalah salah satu puisi akrostik yang terdapat pada buku ini. Semangat yang meluap-luap untuk terus berkarya terlihat jelas pada puisi ini.

Jendela Juli

Jembatan untuk merangkai puisi

Ekspresikan diri tuk berimajinasi

Niat dan tekad memulai lagi

Detik-detik meniti prestasi

Elemen diksi harus dikuasai

Lambat laun akan terpatri

Alunan bait dari penulis sejati

Jejak baik wanita biasa namun berusaha tuk menjadi sempurna

Untaian rasa cinta kepada sang maha pencipta

Luas dan dalam sedalam samudera

Itulah langkah awal menjadi pelita

Akrostik, 040722_Aisyah_KBB

Untuk pemesanan dan pembelian hubungi

SERPIHAN KATA DI BALIK GUMAMKU

Ini merupakan kumpulan puisi mengenai pengalaman dalam hidup saya, selain itu, isinya ada yang berupa nasihat bahwa hidup di dunia tentunya harus memberikan manfaat, baik bagi diri sendiri maupun orang lain, salah satunya dengan mengingatkan sesama. (Siti Masitoh).

Serpihan Kata di Balik Gumamku

Hak Cipta Dilindungi Undang-undang

All Right Reserved

Penulis: Tuti Masitoh

ISBN :  978-623-6581-10-0

Penyunting: Kokom Komara (Umi) & Eneng Sri Supriatin

Lay out: Neneng Hendriyani

Desain Sampul: Cahsantri

Cetakan Pertama, April 2021

Penerbit

Cakrawala Milenia Jaya

Bumi Karadenan Permai Blok AA8 No.11-12

Cibinong – Bogor Jawa Barat

cakrawalamileniajaya@gmail.com

https://cakrawalamj.co.id

ig: cakrawalamilenia

Jumlah halaman xii+102

Serpihan Kata di Balik Gumamku, sebentuk 100 mutiara puisi Toge dari seorang ibu bernama Tuti Masitoh bagi kebaikan semesta cipta.  Melewati derasnya kata-kata yang dibiaskan pena harapan melahirkan spektrum kata yang begitu indah mempesona, kata demi kata, menari di alas kertas putih seputih hatinya, yang bermuara ke relung palung hati yang terdalam, butiran rindu-rindu dan juga cinta menyelinap apik di antara kata-kata puisinya. Hikmah yang termaktub dari sendu jemu perjalanan ruhani di masa kovidia, mengedukasi pada mata-mata yang haus ingin meneguk hikayat cinta. Tuti Masihtoh yang kerap kali saya panggil beliau dengan sapaan renyah Bunda Tuti, memanfaatkan masa itu dalam perenungan diri, lalu beliau mengabadikan momen itu hingga keujung akar imaji para pembaca se persada.

Diabadikan lewat kata-kata yang begitu ayu, melahirkan bacaan yang memanjakan para kesatria serta bidadari literasi di muka bumi. Sengaja beliau menyajikan sedemikian rupa dengan tujuan untuk selalu mengajak kita senantiasa mengasah ketajaman hati, dan gerbang bawah sadar kita, untuk selalu tetap bersyukur dan fokus, meski berbagai bencana/musibah menghantui kita semua setiap waktu. Beliau mengajak guna merundukkan hati, membaca dengan mata batin pada kata Iqroo. Bacalah! Artinya segenap jiwa dan raga, harus dibaca, pada seluruh aspek kehidupan harus peka dan rajin dibaca. Suguhan buah pemikirian beliau ini, tertuang dalam bentuk seratus puisi toge atas nama cinta pada generasi penerus bangsa. (Edi Sudrajat (AA Roy), PJ PUISI KONTEMPORER KPPJB )