Penulisan buku ini didasarkan pada fenomena penggunaan media sosial yang masif oleh generasi Z. Generasi Z bahkan sering disebut sebagai digital native yang sangat bergantung pada media sosial. Di bidang politik, media sosial efektif digunakan sebagai sarana komunikasi politik, tidak terkecuali kampanye pada pemilihan umum. Oleh karena itu, para kandidat pejabat publik, baik di bidang legislatif seperti DPR dan DPRD maupun eksekutif yakni presiden dan kepala daerah, memaksimalkan penggunaan media sosial digital dalam upaya meraih suara masyarakat, khususnya generasi Z. Begitu pula dengan pasangan Prabowo-Gibran yang menggunakan Instagram sebagai sarana kampanye politik pada Pemilihan Presiden 2024.
Cover: Inovasi Pendidikan Berbasis Aksi dari Konsep ke Implementasi (Sumber: CMJ)
Dalam era yang terus berkembang, dunia pendidikan menghadapi berbagai tantangan yang memerlukan solusi kreatif dan inovatif. Oleh karena itu, buku ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi para pendidik, akademisi, dan pemangku kepentingan pendidikan dalam merancang dan melaksanakan strategi pembelajaran yang lebih efektif, menyenangkan, dan relevan dengan kebutuhan zaman. Buku ini disusun secara sistematis, dimulai dengan pemaparan latar belakang dari masing-masing program, tujuan yang ingin dicapai, langkah-langkah implementasi, serta refleksi dari hasil yang diperoleh. Beberapa program inovatif yang diangkat dalam buku ini, seperti PROSESI, AL HADI, PAPEDA, PRABUSARMA, KAREYLISH, SEJAWAT, KEPRONTAL, LIBERASI, KUDU, MAGIC’S, hingga konsep MATEMATIKA ASYIK DAN MENYENANGKAN, diharapkan dapat memberikan wawasan serta inspirasi bagi pembaca dalam mengembangkan praktik pembelajaran yang lebih bermakna.
Penulis: Imam Maulana, S. Pd., Gr. dkk QRCBN: 62-839-6325-711 Penyunting: Neneng Hendriyani Lay out: Tim CMJ Desain Sampul: Hapiah Wardah Cetakan Pertama, Januari 2025
Cover: Jejak Inspirasi (Sumber: CMJ)
Buku ini menjadi dokumentasi atas dedikasi, kreativitas, dan inovasi para Guru Penggerak dalam menghadirkan perubahan yang berdampak positif bagi pendidikan di lingkungan sekolah. Setiap program aksi nyata yang diulas di dalamnya mencerminkan semangat kolaborasi, kepemimpinan, dan pemberdayaan yang diusung oleh Program Guru Penggerak. Melalui berbagai tema seperti pengelolaan sampah, energi terbarukan, literasi, hingga pengembangan keterampilan teknologi informasi, para guru telah menunjukkan bagaimana praktik baik dapat menjadi inspirasi bagi sesama pendidik, siswa, dan masyarakat. Buku ini tidak hanya merekam berbagai langkah pelaksanaan aksi nyata, tetapi juga menyajikan refleksi dan pembelajaran sebagai upaya berkelanjutan untuk memperbaiki kualitas pendidikan.
Hak Cipta Dilindungi Undang-undang All Right Reserved Penulis : Ari Arniawati, SS, M.Pd QRCBN : 62-839-4346-885 Penyunting : Neneng Hendriyani Lay out : Tim CMJ Desain Sampul: Hapiah Wardah Cetakan Pertama, Desember 2024
Sampul Buku Saku: Sekolah Hijau dan Sehat
Pengelolaan sampah selama ini, hanya dibuang di tempat yang agak jauh dari ruangan kelas yang masih berada di lingkungan sekolah, dengan hanya mengandalkan tugas dan tanggungjawab dari caraka sebagai karyawan sekolah yang jumlahnya sangat terbatas. Analisis permasalahan di atas, menjadi dasar dibuatnya program yang mengangkat tema “Sekolah Hijau dan Sehat: Menciptakan SDM Unggul dan Berkesadaran Lingkungan” di SMKN 1 Gunungputri.”
Secara umum panduan ini dibagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama terdiri bagian yang menekankan pada upaya menggali potensi sekolah dengan jumlah siswa yang sangat banyak, menganalisis permasalahan dan rencana program. Bagian kedua, merupakan deskripsi pelaksanaan yang telah dilakukan sebagian dari program di atas. Bagian ketiga sebagai penutup yang berisi kesimpulan dan rekomendasi lanjutan.*)
Ngamumulé budaya sarta sastra Sunda. Jadi kawajiban urang salaku urang sunda, rék ku saha deui atuh ari lain ku urang mah da batur mah moal daékkeun. Ari lain bangsa Panjajah nu ngajajah urang jaman baheula. Basa Sunda nepikeun ka dipaling dibawa ka nagarana. Kunaon meureun? Manéhna apaleun yén basa sunda téh gedé ajéna pisan.
Numatak urang salaku urang Sunda abong deui lamun ngamomorékeun basa sorangan. Ku ayana Buku Carpon “Sisi Basisir Laut Kidul” nu diserat ku Ibu Ooh Munawaroh, S. Pd, Ibu pupuhu di SDN 2 Cihérang Kacamatan Pasawahan Kabupaten Purwakarta éstu ngareueuskeun pisan. Basa Sunda téh geuning masih hirup tur dipikaresep ku guru-guru. Luyu jeung program Dinas Pendidikan Purwakarta 7 Poé Atikan Purwakarta Istimewa anu salah sahijina nyaéta Maneuh di Sunda.
Mugia buku ieu mangpaat pikeun dunia atikan hususna Sastra Sunda. Nu tangtuna bisa ngeuyeuban perpustakaan sakola.
Tarékah pikeun namperkeun imajinasi dina wangun karya sastra mangrupa kumpulan carpon ieu téh tangtosna kedah pisan diapresiasi. Sabab karya nu lahirna tina imajinasi gedé pisan ajénna. Buktos tina karacagéan Ibu Ooh Munawaroh S. Pd., Pupuhu SDN 2 Cihérang di widang Literasi ka wilang saé pisan. Salaku tuladan turta pikeun tumuwuhna rasa kadeudeuh kana Basa karuhun urang sadayana nyatana Basa Sunda.
Wilujeng Bu, mugia Buku kumpulan carpon anu Judulna “Sisi Basisir Laut Kidul” janten pamuka lawang kanggo medalna buku-buku anu sanésna.
Desain Sampul: Hapiah Wardah Cetakan Pertama, September 2024
Buku “Rumpaka Jati Diri Ki Sunda” mangrupikeun buku kumpulan sajak akrostik Sunda sanaos seueur kènèh kakirang mugia janten angliur manah anu seneng maos sajak Sunda. Arkostik asalna tina bahasa Yunani, Akrostichis, nu hartosna sajak nu huruf awal baris nyusun hiji kecap atawa kalimah. Sajak Akrostik biasana ngagunakeun aksara mimiti nu aya dina ungal kecap mimiti. Sajak akrostik bèda jeung sajak nu lian sabab huruf – huruf mimiti unggal baris ngeja kecap nu dibaca kalawan vertikal. Pola rima jeung jumlah baris dina sajak akrostik bisa rupa- rupa sabab sajak akrostik leuwih ti sajak deskriptif nu ngajelaskeun kecap-kecap nu dibentuk.
(Cover Mengupas Misteri Gedung Arsip dan Situ Cikaret Cibinong-Bogor, sumber: CMJ)
Penulis : Adelia Fauzia Rakhim, dkk
QRCBN : 62-839-8412-026
Penyunting : Neneng Hendriyani
Lay out : Hawa
Desain Sampul : Chayara Arsalya Sandy
Cetakan Pertama, Mei 2023
Karya
Adelia Fauzia Rakhim, Adinda Putri Wahyudi, Arnold Rivaldo, Azalea Talitha Putri, Bunga Fitri Choirunisa, Chayara Arsalya Sandy, Ghina Raya Safsa, Kencana Win Theodora, Kiandra Daffa Janesa, Muhammad Rafi’ul Anwar Baehaki, Na’ilah Rahadatul Aisy Saktia, Nayla Nurhaliza Bilqis, Rayhan Adistira.
Sinopsis
Buku ini merupakan hasil kegiatan pembelajaran Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) untuk Tema 3 Kearifan Lokal. Ditulis oleh tim penulis dari kelas X-1 dengan mengangkat tema mengenai misteri di seputar Gedung Arsip dan Situ Cikaret yang sempat viral di media sosial karena banyaknya penampakan dan kisah horor. Keingintahuan penulis mengenai asal mula kedua tempat, termasuk tujuan, fungsi, dan manfaat keduanya dituangkan di dalam buku ini.
Pengumpulan data mengenai kedua tempat tersebut, yaitu Gedung Arsip dan Situ Cikaret dilakukan dengan cara melakukan observasi langsung ke lokasi, wawancara tokoh, studi pustaka, dan literasi digital.
Para penulis melakukan braisntorming pencarian ide mengenai tema penulisan pada minggu pertama Januari 2023 dengan bimbingan fasilitator yaitu Ibu Citra Ayu Ningrum, S.Pd. Setelah merencanakan semua tahap kegiatan dan membuat jadwal pelaksanaan barulah mereka melakukan pengumpulan data. Setelah semua data dirasa cukup penulis menuangkannya ke dalam naskah berupa draft buku. Fasilitator memeriksa draft dan mengembalikannya kepada tim naskah untuk direvisi hingga tanggal 30 Maret 2023. Setelah itu barulah draft dikumpulkan.
Akhirnya, buku yang merupakan hasil kegiatan mandiri, kolaboratif ini berhasil diterbitkan. Semoga buku ini bermanfaat bagi seluruh pembaca di mana pun berada. *)
Buku SIKEPO MOAL ELEH ini disusun penulis berdasarkan pengalaman mengajar yang selama ini diterapkan dalam pembelajaran kewirausahaan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dimana aktivitas pembelajaran yang diterapkan awalnya dianggap tidak sesuai dengan standar pada umumnya karena selama ini kegiatan pembelajaran hanya dipahami sebatas guru menerangkan materi di depan kelas dan siswa harus mendengarkan serta paham tentang materi yang disampaikan lalu guru beranggapan bahwa semua materi belajar harus disampaikan secara tuntas tanpa pernah memikirkan apakah siswa paham dan mengerti tentang tujuan dari belajar itu sendiri.
Mengutip tulisan Roem Topatimasang dalam buku Sekolah itu Candu (1998) tentang hakekat pendidikan terhadap manusia bahwa merdeka adalah fitrah yang telah dibawa manusia sejak kehadirannya di dunia, maka Pendidikan sejatinya harus sejalan dengan hakekat tersebut. Karena manusia adalah penguasa atas dirinya sendiri, Paulo Freire yang merupakan salah satu tokoh pendidikan abad ke 20 menyampaikan bahwa tujuan akhir dari proses Pendidikan adalah memanusiakan manusia. Ki Hadjar Dewantara, tokoh pendidikan nasional, juga melontarkan konsep pendidikan adalah pendidikan yang memerdekakan. Dimana menurut beliau, merdeka berarti setiap orang bisa hidup tidak terperintah, mampu tegak karena kekuatan sendiri dan cakap mengatur hidupnya dengan tertib.
Cerita yang disampaikan dalam buku SIKEPO MOAL ELEH ini merupakan hasil pengalaman penulis selama mengembangkan model pembelajaran pada mata pelajaran kewirausahaan di SMK. Semoga pengalaman serta praktik baik yang telah dilaksanakan ini dapat memberikan manfaat bagi rekan-rekan guru dalam melaksanakan pembelajaran kewirausahaan di kelas sehingga mampu menghasilkan dan mencetak siswa dan juga alumni yang memiliki jiwa wirausaha agar mereka mampu mandiri dalam mengarungi kehidupannya di masa yang akan datang.
Kecintaan seorang Rekyan Setiati terhadap puisi telah ia tunjukkan pada Sehimpun Puisi berjudul “Mendayung Asa”. Karya Rekyan Setiati ini buah pena tunggal sebagai wujud dari buah perenungan, penghayatan, dan kristalisasi dari nilai-nilai kehidupan yang masuk ke ruang kontemplasinya. Pandangan dan kesan-kesan ibu Rekyan Setiati terhadap setiap fenomena yang ditemukannya telah ia ejawantahkan dengan bahasa yang lancar, fluent, dan mengalir. Hampir tidak ditemukan puisi yang rumit dan sulit dipahami. Setidaknya, karya Rekyan Setiati ini terbebas dari masalah yang sering dikeluhkan pembaca puisi. Hal ini secara sadar dan sengaja dilakukannya dengan harapan, karya-karyanya ini dapat menginspirasi dan memotivasi para pembaca.
Seorang Rekyan Setiati memiliki rasa haus menggali ilmu, sehingga ilmu yang diperolehnya terekspresikan dalam tulisan Rekyan Setiati yang terdiri dari Dalam Aksara, Sedekah Puisi, Akrostik Satukan Kalbu, Sedih, Berbisik ke Bumi, dan lain-lain.
Begitu nyata unsur-unsur puisi pada deret baris akrostik Mendayung Asa. Seolah pembaca berada dalam kisah yang tersaji di dalamnya. Puisi Mendayung Asa begitu hidup dan nyata. Pandailah Rekyan Setiati menghidupkan sebuah puisi.
Satu hal yang spesial dari antologi ini adalah 98 judul Akrostik. Dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Ibu Rekyan Setiati sebagai penulis menyajikan dan memberi warna puisi dalam ‘Mendayung Asa ini. Puisi sebanyak itu, ditulisnya dalam tempo yang relatif singkat. Mendayung Asa ditulisnya tak kurang dalam tiga bulan. Inilah pentingnya mengenal sosok Rekyan Setiati, karena kepiawaiannya dalam hal menulis puisi.
Di mata saya, ibu Rekyan Setiati ini seorang ibu rumah tangga yang luar biasa. Saya kagum atas produktivitasnya yang tinggi dalam menulis. Sebagai seorang ibu rumah tangga, tak kurang kesibukannya dalam mendidik dan mengasuh anak. Di selakesibukannya masih sempat meluangkan dan mencuri waktu untuk menulis. Pasti lelah. Tapi semua itu dikalahkannya dengan tekad yang kuat dan kerja keras. Saya membanggakan ibu Rekyan Setiati.
Sebagai seorang ibu di rumah tangganya, produktivitasnya ini hendaknya jadi teladan bagi semua ibu rumah tangga. Seolah-olah terngiang pesannya, betapa pun sibuk, pasti ada waktu luang untuk berkarya. Jangan jadikan kesibukan sebagai alasan untuk tidak berkarya.
Selamat, Bu Rekyan Setiati!
Maju terus, berkarya terus!
@ salam takjim dari Iyus Yusandi di Taman Asmaraloka KPPJB
Ini merupakan kumpulan puisi mengenai pengalaman dalam hidup saya, selain itu, isinya ada yang berupa nasihat bahwa hidup di dunia tentunya harus memberikan manfaat, baik bagi diri sendiri maupun orang lain, salah satunya dengan mengingatkan sesama. (Siti Masitoh).
Serpihan Kata di Balik Gumamku, sebentuk 100 mutiara puisi Toge dari seorang ibu bernama Tuti Masitoh bagi kebaikan semesta cipta. Melewati derasnya kata-kata yang dibiaskan pena harapan melahirkan spektrum kata yang begitu indah mempesona, kata demi kata, menari di alas kertas putih seputih hatinya, yang bermuara ke relung palung hati yang terdalam, butiran rindu-rindu dan juga cinta menyelinap apik di antara kata-kata puisinya. Hikmah yang termaktub dari sendu jemu perjalanan ruhani di masa kovidia, mengedukasi pada mata-mata yang haus ingin meneguk hikayat cinta. Tuti Masihtoh yang kerap kali saya panggil beliau dengan sapaan renyah Bunda Tuti, memanfaatkan masa itu dalam perenungan diri, lalu beliau mengabadikan momen itu hingga keujung akar imaji para pembaca se persada.
Diabadikan lewat kata-kata yang begitu ayu, melahirkan bacaan yang memanjakan para kesatria serta bidadari literasi di muka bumi. Sengaja beliau menyajikan sedemikian rupa dengan tujuan untuk selalu mengajak kita senantiasa mengasah ketajaman hati, dan gerbang bawah sadar kita, untuk selalu tetap bersyukur dan fokus, meski berbagai bencana/musibah menghantui kita semua setiap waktu. Beliau mengajak guna merundukkan hati, membaca dengan mata batin pada kata Iqroo. Bacalah! Artinya segenap jiwa dan raga, harus dibaca, pada seluruh aspek kehidupan harus peka dan rajin dibaca. Suguhan buah pemikirian beliau ini, tertuang dalam bentuk seratus puisi toge atas nama cinta pada generasi penerus bangsa. (Edi Sudrajat (AA Roy), PJ PUISI KONTEMPORER KPPJB )