Modul Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila Gaya Hidup Berkelanjutan: Pembuatan Kompos

Hak Cipta Dilindungi Undang-undang
All Right Reserved
Penulis : Ika Nur Rahma, Wafda
Amalia
QRCBN : 62-839-0411-273
Penyunting : Neneng Hendriyani
Lay out : Tim CMJ
Desain Sampul : Hapiah Wardah
Cetakan Pertama, Desember 2024
Jumlah halaman iv + 50

Sampul Buku Modul Projek P5 Gaya Hidup Berkelanjutan: Pembuatan Kompos

Daftar Isi
Identitas Modul Projek
Deskripsi Projek
Tujuan, Alur, dan Target Pencapaian Projek
A. Tujuan
B. Alur
C. Target Pencapaian Projek
Tahapan dalam Projek Gaya Hidup Berkelanjutan

  1. Aktivitas Pengenalan
  2. Aktivitas Kontekstualisasi
  3. Aktivitas Aksi Nyata
  4. Aktivitas Refleksi dan Umpan Balik Positif
    Dimensi, Elemen, dan Subelemen Profil Pelajar
    Pancasila
    Kerangka Pengalaman Belajar Dan Pembagian Jam
    Pelajaran Projek Gaya Hidup Berkelanjutan
    Perkembangan Subelemen Antarfase
  5. Dimensi Mandiri
  6. Dimensi Gotong Royong
  7. Dimensi kreatif
    Tahap Pengenalan
    Aktivitas 1
    Lembar Kerja Aktivitas 1
    Aktivitas 2
    Lembar Kerja Aktivitas 2
    Aktivitas 3
    Lembar Kerja Aktivitas 3
    Lembar Hasil Diskusi
    Tahap Kontekstualisasi
    Aktivitas 4
    Lembar Kerja Aktivitas 4
    Aktivitas 5
    Lembar Kerja Aktivitas 5
    Aktivitas 6
    Lembar Kerja Aktivitas 6
    Aktivitas 7
    Lembar Kerja Aktivitas 7
    Aktivitas 8
    Lembar Kerja Aktivitas 8
    Aktivitas 9
    Lembar Kerja Aktivitas 9
    Aktivitas 10
    Lembar Kerja Aktivitas 10
    Aktivitas 11
    Lembar Kerja Aktivitas 11
    Tahap Refleksi dan Umpan Balik Positif
    Aktivitas 12
    Lembar Kerja Aktivitas 12

Kompilasi Cerita Muara Beres

Cover Kompilasi Cerita Muara Beres (Sumber: CV CMJ

Penulis          :  Anggit Destra Atmaja dkk

QRCBN          : 62-839-1120-858

Penyunting   : Neneng Hendriyani

Lay out          : Tim CMJ

Desain Sampul: Salma Nur Zafira

Cetakan Pertama, Mei 2023

Setiap wilayah di Indonesia memiliki ciri khas kebudayaannya yang berbeda dari wilayah lain. Pada masa ini, melestarikan kebudayaan menjadi tantangan bagi pemerintah dan masyarakat Indonesia. Upaya pelestarian kebudayaan juga merupakan tanggung jawab para pemuda-pemudi yang akan menjadi penerus bangsa. Sebagai pelajar yang merupakan bagian dari generasi muda, kami memutuskan untuk turut serta dalam melestarikan kebudayaan.

Melalui pemanfaatan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) di sekolah, yang merupakan bagian dari Kurikulum Merdeka, kami semakin mudah mempelajari dan melestarikan budaya. Pada tema 3 yang mengangkat topik kearifan lokal, kami ditugaskan untuk membuat buku yang membahas kearifan lokal di Kecamatan Cibinong. Awalnya, kami merasa kesulitan karena mengira bahwa kearifan lokal di Cibinong sangat sedikit. Namun, setelah melakukan observasi, kami menemukan banyak sekali cerita sejarah yang berkaitan dengan kearifan lokal di daerah ini.

Kearifan lokal merupakan identitas atau ciri khas suatu masyarakat yang mencerminkan etika serta nilai budaya yang diwariskan secara turun-temurun. Berdasarkan pengertian tersebut, kami sepakat untuk mengangkat tema Muara Beres dengan judul buku Kompilasi Cerita Muara Beres. Kami memilih tema ini karena di wilayah Muara Beres, Sukahati, terdapat banyak cerita sejarah dan misteri, mulai dari tradisi, mitos, hingga larangan yang dipercayai oleh masyarakat setempat. Bahkan, ada kepercayaan bahwa di Muara Beres pernah berdiri sebuah kerajaan bernama Kerajaan Muara Beres.

Keberadaan cerita ini membuat Muara Beres sering dikunjungi oleh mahasiswa dan sejarawan yang berusaha mengungkap misteri kerajaan tersebut. Namun, hingga buku ini ditulis, belum ditemukan bukti otentik yang menunjukkan bahwa Kerajaan Muara Beres benar-benar pernah ada. Oleh karena itu, cerita ini masih sebatas kepercayaan masyarakat sekitar. Kendati demikian, kisah mengenai Kerajaan Muara Beres telah tersebar hingga ke Banten. Beberapa bukti yang digunakan untuk mendukung keberadaan kerajaan ini adalah fakta bahwa sebagian besar masyarakat yang tinggal di wilayah Muara Beres merupakan keturunan bangsawan yang menggunakan gelar “Raden” di depan namanya.

Dalam penyusunan Kompilasi Cerita Muara Beres, kami menggunakan jenis naskah naratif dan deskriptif. Naratif berarti bersifat menguraikan suatu peristiwa secara runtut, sedangkan deskriptif berfungsi menggambarkan sesuatu secara mendetail. Kami memilih pendekatan ini karena buku ini mengangkat cerita yang berkembang di masyarakat Muara Beres. Di dalamnya, kami akan menguraikan sejarah berdirinya dan runtuhnya Kerajaan Muara Beres, silsilah keturunannya, serta menggambarkan peninggalan kerajaan, tradisi masyarakat, mitos, dan larangan yang dipercayai oleh penduduk setempat.

Agar pembaca lebih mudah memahami isi buku dan menarik kesimpulan, kami membaginya ke dalam lima bab.

  1. Bab 1 mencakup empat subbab:
    • Latar belakang, yang menjelaskan alasan pemilihan tema serta tujuan penulisan.
    • Tujuan dan manfaat, yang memberikan motivasi kepada pembaca agar memperoleh wawasan dan manfaat dari buku ini.
    • Sistematika penulisan, yang bertujuan membantu pembaca memahami struktur isi buku agar dapat mengikuti pembahasannya secara sistematis.
  2. Bab 2 menjelaskan sejarah Muara Beres pada masa kolonial Belanda, Kerajaan Muara Beres, peninggalan kerajaan, serta silsilah keturunannya.
  3. Bab 3 membahas tradisi, mitos, dan larangan yang berkembang di masyarakat Muara Beres.
  4. Bab 4 berisi simpulan, saran, waktu dan lokasi penelitian, serta dokumentasi kegiatan yang telah kami lakukan dalam mengumpulkan informasi yang dibutuhkan.

Dengan penyusunan yang sistematis, kami berharap buku ini dapat menjadi referensi yang bermanfaat bagi pembaca dalam memahami kearifan lokal Muara Beres.

Jejak Etnis Tionghoa di Cibinong

Cover Jejak Etnis Tionghoa di Cibinong (sumber: CV CMJ)

Penulis            : Alwan Putra Desriyanto, dkk

QRCBN           : 62-839-0941-855

Penyunting      : Neneng Hendriyani

Lay out            : Hawa

Desain Sampul: Andini Putri Erviyansyach

Cetakan Pertama, Mei 2023

Nama Hok Tek Ceng Sin diambil dari salah satu nama Dewa, yaitu Dewa Bumi yang bertugas dalam penjagaan kehidupan rakyat agar bahagia, aman dan memiliki banyak rezeki. Sejarah awal mula didirikannya Hok Tek Ceng Sin ini tidak diketahui secara jelas. Namun konon pendirinya ialah pedagang transmigran Tionghoa yang datang ke Indonesia dan saat mereka singgah di suatu tempat mereka membawa patung Dewa yang disembah hingga saat ini (Agi Widodo kepada tribunnewsbogor.com 11/2/20121). Menurut Hidayat, penjaga toko di kelenteng, kisaran tahun berdirinya kelenteng ialah sekitar 500-700 tahun yang lalu. Karena tidak ada catatan mengenai hal tersebut dikatakan bahwa sang pendiri tidak ingin dianggap sombong dengan menceritakannya.

Kelenteng ini memiliki arsitektur khas Cina yang dapat terlihat sangat jelas dari warna bangunannya yang sering dihiasi dengan warna merah dan kuning keemasan karena kedua warna tersebut memiliki makna simbolis yang penting dalam kepercayaan dan budaya Asia.

Warna merah melambangkan keberuntungan, kebahagiaan, dan kekuatan, serta diyakini dapat membantu mengusir roh jahat. Dalam kepercayaan Taoisme, merah juga melambangkan elemen api dan merupakan warna utama dalam festival Tahun Baru Imlek.

Sementara itu, warna kuning keemasan melambangkan kekayaan, kemakmuran, dan keberuntungan dalam kepercayaan dan budaya Asia. Warna ini juga dianggap suci dan dihubungkan dengan keilahian dalam agama Budha.

Kelenteng Hok Tek Bio Cibinong juga sering menjadi pusat kegiatan keagamaan dan sosial bagi umat Konghucu di wilayah tersebut. Beberapa kegiatan yang biasa diadakan di kelenteng ini antara lain:

  1. Ibadah: Umat Konghucu melakukan ibadah di Kelenteng Hok Tek Bio Cibinong secara rutin. Ibadah dilakukan pada hari raya besar seperti Cap Go Meh, Imlek, dan Tahun Baru Cina.
  2. Kegiatan Sosial: Kelenteng ini sering digunakan sebagai tempat penyelenggaraan kegiatan sosial, seperti bakti sosial, pengobatan gratis, dan pemberian sembako bagi masyarakat kurang mampu.
  3. Kegiatan Budaya: Di Kelenteng Hok Tek Bio Cibinong, umat Konghucu dapat mengikuti kegiatan budaya seperti seni bela diri Kungfu, kesenian tradisional seperti Wayang Potehi dan Barongsai, serta pelajaran Bahasa Mandarin.
  4. Acara Tahun Baru Imlek: Kelenteng Hok Tek Bio Cibinong menjadi salah satu destinasi wisata religi yang populer pada saat perayaan Tahun Baru Imlek. Pada saat ini, kelenteng akan dihiasi dengan ornamen khas Tiongkok dan diadakan berbagai acara seperti parade Barongsai dan pertunjukan seni.
  5. Kegiatan Keagamaan Lintas Agama: Selain kegiatan keagamaan bagi umat Konghucu, Kelenteng Hok Tek Bio Cibinong juga sering menjadi tempat penyelenggaraan kegiatan keagamaan lintas agama, seperti doa bersama dan dialog antar umat beragama. Hal ini menunjukkan semangat toleransi dan kerukunan antar umat beragama di wilayah Cibinong.

Dari daerah struktur pembangunannya terlihat memang Hok Tek Bio ini sengaja ditempatkan di dekat pasar karena di pasarlah mayoritas orang Tionghoa mencari rezeki. Dan pembangunannya yang berhadapan dengan arus air. Dikatakan bahwa alasan berhadapan dengan air karena air bermakna sebagai pembawa keberkahan dan rezeki. Ini sesuai dengan lokasi Kelenteng Hok Tek Ceng Sin Cibinong yang dekat dengan Kali Baru dan pasar Cibinong.

Sistematika penulisan buku ini adalah sebagai berikut:

BAB I Pendahuluan. Pada bab ini berisi alasan penulis mengambil topik dari buku ini. Bab ini menjelaskan pula latar belakang, tujuan dan manfaat dari penelitian Etnis Tionghoa di Cibinong.

BAB II Peninggalan Bangunan. Bab ini akan membahas tentang peninggalan bangunan etnis Tionghoa di Cibinong berupa kelenteng dan pemakaman. Kami memilih  Kelenteng Hok Tek Bio Cibinong, pemakaman, Feng shui rumah,  meja altar abu, dan Dewa Pintu.

BAB III Budaya Etnis Tionghoa. Bab ini berisi kebudayaan dari Etnis Tionghoa. Bab ini menjelaskan tentang hari-hari besar, tradisi yang biasa dilakukan, kepercayaan, pakaian tradisional, dan adat pernikahan.

BAB IV Kuliner. Bab ini membahas tentang arti, fungsi, kegunaan, dan nama-nama kuliner etnis Tionghoa.

BAB V Simpulan dan Saran. Bab ini berisi kesimpulan dan saran dari hasil penelitian. Isi kesimpulan yang merupakan kesimpulan dari penelitian yang sudah dilakukan dan saran untuk pembaca dan peneliti selanjutnya.

LAMPIRAN. Pada bagian ini berisi data observasi, biodata penulis dan biodata pembimbing.

Kelurahan Cirimekar : Yon Bekang & TPU Cirimekar

cover Kelurahan Cirimekar Yon Bekang & TPU Cirimekar (sumber: CV CMJ)

Penulis                :  Ahmad Faizul Adnan dkk

QRCBN              : 62-839-5297-718

Penyunting         : Neneng Hendriyani

Lay out               : Hawa

Desain Sampul  : M. Ari Maulana Lubis dan Altahalli Nadhifa Nyssa

Cetakan Pertama, Mei 2023

Wilayah Cibinong memiliki enam kelurahan, yaitu Cirimekar, Ciriung, Harapan Jaya, Karadenan, Nanggewer Mekar, dan Pabuaran. Kelurahan yang paling dekat dengan kota Cibinong adalah Cirimekar.  

Wilayah Cirimekar merupakan salah satu kelurahan yang berada di Cirimekar. Kelurahan Cirimekar terbentuk pada tahun 1978. Cirimekar memiliki luas wilayah sebanyak 172.000.000 Hektare dan memiliki penduduk sebanyak lebih kurang 12.928 jiwa. Kelurahan Cirimekar memiliki kelembagaan masyarakat seperti RT (Rukun Tetangga), RW (Rukun Tetangga) dsb. Jumlah RT di Kelurahan Cibinong ini sebanyak 27 sedangkan RW berjumlah sebanyak tujuh.

Cirimekar merupakan kelurahan yang sedang berada pada masa pengembangan karena pada saat ini di Cirimekar banyak sekali terdapat tempat rekreasi, seperti Situ Gedong yang berada di dekat wilayah Yon Bekang, Cibinong.

Selanjutnya, ada Alun-Alun Cirimekar yang biasanya dimanfaatkan masyarakat setempat untuk berolahraga serta sarana rekreasi, yaitu Situ Citatah. Situ Citatah ini biasanya dimanfaatkan para warga setempat untuk memancing ikan dan bisa juga dijadikan tempat-tempat untuk bersantai.

Berdirinya  wilayah  Yon  Bek Ang  di kelurahan ini  melalui  sejarah  yang  panjang. Sebelum  menjadi  wilayah  Bek Ang  yang  dikenal seperti  sekarang,  pada  masa  kependudukan  Belanda  wilayah ini  digunakan sebagai  tempat  militer  Belanda. Saat itu tempat ini dimanfaatkan sebagai tempat latihan, dan tempat istirahat para prajurit Belanda. 

Seiring  berjalannya waktu wilayah ini telah berganti kekuasaan.  Wilayah  ini  pada  akhirnya  dikuasai  oleh  prajurit  perang  Indonesia. Kemudian, tempat ini dimanfaatkan sebagai tempat istirahat dan latihan para Tentara Indonesia. Pada awalnya wilayah ini tidak sebesar sekarang. Dulu  tempat  ini  banyak  tumbuhi oleh  pohon karet.  Tentara  Indonesia  menguasai  wilayah ini  pada  tahun  1961  dan  nama  wilayah  ini  adalah  Yon In Palad, tempat  ini  digunakan  sebagai  base camp  prajurit  Indonesia  dalam  operasi  perebutan  pembebasan  Irian  Barat  yang dikenal  dengan  operasi  Trikora. Operasi ini  dilakukan  selama  kurang  lebih  sepuluh  bulan  yakni  dari  tanggal  19 Desember  1961  sampai  1  Oktober  1962.

Pada  1965  munculnya  Partai  Komunis  Indonesia  (PKI)  di daerah  Cibinong wilayah  Yon  In  Palad  ini  direbut  oleh  PKI  (Partai  Komunis  Indonesia)  namun  tidak  berselang  lama  wilayah  ini  kembali  direbut  oleh  TNI  (Tentara  Negara  Indonesia). Di sisi lain PKI ini memiliki  wilayah  kekuasaan  di wilayah  LIPI  tempat  tersebut  digunakan  sebagai  Base Camp  para PKI. Namun  karena  PKI  pada  tahun  tersebut  tunggang  langgang  akhirnya  dikuasai  oleh  anggota  TNI  lalu  diserahkan  kepada  negara.

Seiring  berjalannya  waktu,  pada  tahun  1985  wilayah  Yon  In  Palad  berganti  nama  menjadi  Yon  Bekang  1.  Sekarang  wilayah  ini  digunakan  sebagai  tempat  latihan  tembak  Prajurit  TNI  dan  tempat  pembekalan  perlengkapan-perlengkapan  TNI.

TPU  Cirimekar  adalah  tempat  pemakaman  umum  yang  terletak  di  Cirimekar.  TPU  ini  sangat  tidak  asing  dengan  warga-warga wilayah Cirimekar. TPU ini memiliki luas 2 hektare. Secara geografis TPU Cirimekar berada di dekat wilayah komplek Yon Bekang Kostrad, yakni di jalan TPU Cirimekar, Cibinong, Kabupaten Bogor dan terletak di samping gedung bengkel Trijaya Ban. Selain itu TPU Cirimekar berseberangan dengan MTs Amaliyah.

Tempat pemakaman umum ini diresmikan pada tahun 1995 oleh pemerintah Kecamatan Cibinong. TPU Cirimekar memiliki petugas sebanyak tiga anggota yang terdiri dari ketua koordinator dan pengurus makam-makam yang ada di TPU Cirimekar tersebut. Di TPU tersebut terdapat makam dari berbagai agama seperti islam, kristen katolik, kristen protestan, konghucu dan sebagainya.

TPU Cirimekar tidak hanya menjadi tempat pemakaman warga saja namun juga digunakan untuk tempat pemakaman para anggota TNI dan pada masa pandemi Covid-19 TPU ini digunakan pula untuk tempat pemakaman pasien yang terjangkit virus Covid-19.

Awalnya TPU ini dikenal dengan sebutan “Hutan Kuburan” yang disebabkan karena pada zaman dulu dikatakan tempat ini adalah hutan. Pada masa itu wilayah TPU ini masih berupa hutan yang jarang dilewati ataupun disinggahi manusia. Jalannya pun masih berupa tanah merah dan bebatuan. Menurut Pak Ali, “Ini makam memang sudah dari dulu kalau orang-orang Cibinong sini menyebutnya hutan kuburan, hutan kuburan gitu. Hutan kuburan karena hutan juga, dan dipakai buat ngubur juga. Jadi, orang-orang sini kalau nanya yang tua-tua di sini tetap dia nyebutnya hutan kuburan, bukan TPU Cirimekar, bukan”. Selain itu pun wilayah pemakaman tersebut banyak ditumbuhi oleh pohon bambu terutama pada wilayah belakang pemakaman. Selain pohon bambu masih banyak pohon lainnya seperti pohon beringin yang masih tumbuh hingga sekarang.

Seiring berjalannya waktu, hutan ini secara perlahan mulai banyak disinggahi oleh manusia dan menjadi tempat pemakaman. Hingga pada tahun 1995, tempat pemakaman ini diberi nama TPU Cirimekar. TPU Cirimekar ini diresmikan secara tidak langsung. Namun, dari pihak pengelola mengusulkan kepada kepemerintahan Cibinong untuk diresmikan. Setelah diresmikan pemakaman ini dibuatlah sebagai tempat pemakaman umum dan mulailah dibangun seperti patokan-patokan sebagai batas luas pemakaman tersebut, bangunan seperti kantor pengurus makam dan sebagainya. Lambat laun TPU Cirimekar mulai dipadati dengan pemakaman-pemakaman warga sekitar dan secara perlahan pun penjual-penjual bunga mulai menempati kios sekitar TPU. Akses jalan menuju ke pemakaman ini pun diperbaiki.*)

Sejarah Berdirinya Stadion Pakansari

Penulis               : Asep Badru Zaman, dkk.

QRCBN               :    62-839-3322-655

Editor                 :   Dina Ardianti

Lay out               :   Neneng Hendriyani

Desain Sampul:   Hawa

Cetakan Pertama, Mei 2023

Buku ini disusun berdasarkan hasil observasi, survei, wawancara, dan studi Pustaka yang dilakukan secara bersama-sama pada saat pembelajaran P5 berlangsung sejak tanggal 2 Januari 2023 hingga 31 Maret 2023. Semua data dan informasi yang diperoleh dari seluruh kegiatan tersebut kemudian diolah dan disusun menjadi naskah yang layak dinikmati oleh semua orang.

Meskipun stadion ini sangat terkenal di seluruh Indonesia karena kerap digunakan sebagai tempat pertandingan berskala nasional dan internasional namun tidak sedikit warga Cibinong yang belum mengetahui sejarah berdirinya stadion ini. Itulah sebabnya tim penulis dari kelas X-4 ini menuliskannya sebagai laporan kegiatan P5 Tema 3.

Ada banyak cerita menarik mengenai stadion kebanggaan Kabupaten Bogor. Dari mulai pemilihan motif gerbangnya, hingga fasilitas yang dimilikinya semua bercerita kepada kita.

Teman-teman sekalian, apakah kalian pernah mendengar  sejarah Stadion Pakansari? Nah, kali ini kami ingin menceritakan kepada kalian semua tentang sejarah Stadion Pakansari. Seperti yang kalian tahu, Stadion Pakansari terletak di Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Tapi kalian tahu tidak, sih? Sebelum dibangunnya Stadion Pakansari, tempat tersebut dahulunya adalah sebuah pemukiman yang dikelilingi pohon-pohon. Di pemukiman tersebut terdapat lingkungan RT 04 dan 05 yang tinggal di daerah setempat. Lalu, pemukiman tersebut digusur karena lahan tersebut akan dibeli oleh pemerintah dan akan dibangun stadion. Para warga yang sebelumnya tinggal di daerah tersebut sekarang berpindah ke berbagai tempat. Ada warga yang masih tinggal di sekitar stadion dan ada juga yang berpindah ke kampung halaman mereka.

Kalian tahu tidak mengapa Stadion Pakansari dibangun di daerah Pakansari? Pada tahun 1990, Pemerintah Kabupaten Bogor memindahkan kantor administrasinya ke daerah Cibinong dari pusat Pemerintahan Kota Bogor. Pada tahun yang sama, pembangunan kantor pemerintahan mulai dibangun oleh Pemerintah Kabupaten Bogor termasuk daerah Pakansari. Kemudian, pada tahun 1999, Kabupaten Bogor ditunjuk menjadi tuan rumah Porda  VI. Kalian tahu tidak apa itu Porda? Porda merupakan kepanjangan dari Pekan Olahraga Daerah. Porda merupakan ajang kompetisi yang bertujuan meraih prestasi dalam bidang olahraga dan memiliki tujuan khusus untuk melahirkan atlet-atlet yang memiliki potensi untuk mewakilkan daerah dan negara pada kompetisi ajang tingkat nasional dan internasional. Kompetisi Porda diselenggarakan oleh Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI). Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) adalah organisasi yang bertanggung jawab untuk mengelola, membina, mengembangkan, dan mengoordinasikan seluruh pelaksanaan kegiatan olahraga.

Pembangunan Stadion Pakansari dimulai pada tahun 1996 sekaligus dibarengi dengan pembangunan Pemda. Namun, pada tahun 1998, pembangunan Stadion Pakansari terhenti karena adanya krisis moneter. Saat itu kondisi stadion baru selesai pondasi saja. Kalian tahu tidak pada tahun 1998 Indonesia mengalami krisis moneter yang sangat buruk, lho. Indonesia mengalami permasalahan ekonomi akibat nilai mata uang rupiah yang melemah terhadap mata uang asing, tingginya utang luar negeri terutama pada sektor swasta, pemerintah yang kurang tanggap dalam menyelesaikan masalah perekonomian yang semakin buruk, dan perekonomian masyarakat tidak stabil. Krisis ekonomi itu membuat para mahasiswa turun ke jalan untuk melakukan demonstrasi menuntut Presiden Soeharto agar mengundurkan diri dari jabatan beliau sebagai Presiden Republik Indonesia kala itu.

Ada pun beberapa dampak krisis moneter 1998, yaitu banyak perusahan yang gulung tikar karena tidak sanggup membayar utang dan membeli bahan baku yang diperoleh secara impor sementara nilai mata uang rupiah mengalami penurunan, lalu harga bahan pokok meningkat dan terjadinya kerusuhan masyarakat. Pada tahun 1998, krisis moneter tidak hanya dialami oleh Indonesia, tetapi ada beberapa negara di Asia yang mengalami krisis moneter, yaitu Thailand dan Korea Selatan. Akan tetapi, Indonesialah yang mengalami krisis moneter paling buruk di antara negara-negara tersebut.

Ada pun beberapa upaya yang dilakukan oleh pemerintah dalam menangani krisis moneter 1998, yaitu pertama, memperbaiki sistem perbankan karena banyak praktik perbankan yang tidak berjalan dengan baik yang membuat pemerintah dan IMF sepakat untuk menutup bank yang bermasalah. Kedua, pemerintah membentuk BPPN (badan penyehatan perbankan nasional). BPPN memiliki tugas pokok untuk penyehatan perbankan, penyelesaian aset yang bermasalah, dan mengupayakan pengembalian uang negara yang tersalur pada sektor perbankan. Namun, karena kinerja BPPN dinilai kurang memuaskan pada masa pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri. Lembaga ini resmi dibubarkan pada tanggal 27 Februari 2004 berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pengakhiran Tugas dan Pembubaran BPPN.

Ketiga, restrukturisasi utang swasta, total utang luar negeri Indonesia pada maret 1998 mencapai 138 miliar dollar AS. Dari jumlah tersebut, utang perusahaan swasta sebesar 64,5%. Hal ini membuat pemerintah ikut andil dalam penyelesaian utang perusahaan swasta. Tim penyelesaian utang luar negeri swasta berhasil mencapai kesepakatan yang mencakup pembiayaan perdagangan, pinjaman perusahaan swasta, dan penyelesaian pinjaman antarbank.

Keempat, makroekonomi. Makroekonomi adalah sebuah upaya yang dilakukan untuk menganalisis suatu peristiwa untuk mengetahui sebab dan akibat dari suatu masalah. Salah satu kebijakan yang ada dalam makro ekonomi adalah kebijakan moneter yang mencakup tentang langkah-langkah pemerintah untuk mempengaruhi pengeluaran agregat, mulai dari mempengaruhi penawaran atau peredaran uang di masyarakat hingga mengubah tingkat bunga pada periode tersebut. Oleh karena itu, peran kebijakan moneter dalam makroekonomi adalah untuk menjaga laju pertumbuhan perekonomian negara.

Karena krisis moneter 1998, kehidupan masyarakat tidak sejahtera terlihat pada data BPS. Penduduk miskin meningkat dari 17,47% menjadi 24,20%. Upaya yang dilakukan pemerintah dalam mengatasi krisis ini adalah APBN diperlonggar untuk memberikan bantuan kepada rakyat sebesar 8, 5%. Apakah kalian tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan Indonesia untuk mengatasi krisis moneter 1998? Indonesia membutuhkan waktu yang lama sekitar sepuluh tahun untuk pulih dari krisis moneter 1998 dan mengembalikan perekonomian seperti sebelum terjadinya krisis moneter 1998.

Terjadinya krisis moneter sangat berdampak pada pembangunan Stadion Pakansari. Selama belasan tahun, pembangunan stadion tersebut menjadi terbengkalai. Pada tahun 2012, Stadion Pakansari dibangun kembali  oleh Bupati Bogor, Drs. H. Rahmat Yasin. Pembangunan Stadion Pakansari menghabiskan dana sebesar Rp803 miliar. Proses pembangunan Stadion Pakansari selesai pada tahun 2016. Stadion Pakansari dibangun di atas tanah dengan luas 60 hektar dan memiliki lapangan utama dengan panjang 105 meter dan lebar 70 meter.

Stadion Pakansari diresmikan oleh Bupati Bogor, Ibu Nurhayati dan Gubernur Jawa Barat, Bapak Ahmad Heryawan. Stadion pakansari mulai beroperasi secara formal setelah diresmikan pada tahun 2016 dan acara yang pertama kali diselenggarakan oleh Stadion Pakansari adalah kejuaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX Jawa Barat dan piala AFF 2016. Teman-teman tahu, tidak? Sebelum nama stadion ini diresmikan dengan nama Stadion Pakansari, stadion ini dikenal dengan nama Pakansari Cibinong Raya yang disingkat menjadi Pacira, lho. Nama stadion tersebut dilelang dan dari hasil lelangan tersebut, stadion ini dinamakan Stadion Pakansari.*)

Mengenang Perjuangan Para Tokoh Karanggan – Citeureup

Cover Mengenang Perjuangan Para Tokoh Karanggan – Citeureup; Sumber: CMJ

Penulis:   Achmad Rafif Althaf, dkk

QRCBN:   62-839-1043-295

Editor:   Dina Ardianti

Lay out:   Neneng Hendriyani

Desain Sampul:   Tim Naskah X-3

Cetakan Pertama, Mei 2023

Karanggan memiliki banyak kisah unik dan juga misteri-misteri yang menarik untuk dicari tahu dengan lebih lanjut, di antaranya adalah Makam Panjang dari Mbah Kolot Pidin dan Makam Mbah Uyut Bongkok. Alasan kami memilih Karanggan sebagai topik yang dibahas karena topik tentang daerah Karanggan belum pernah dibahas dan dijadikan sebagai topik dari sebuah buku. Selain itu, kami juga ingin memperkenalkan Karanggan kepada masyarakat luar dan para pelajar lainnya.

Di Karanggan terdapat suatu makam yang sering dikunjungi oleh masyarakat dari luar daerah Karanggan, sementara warga Karanggan sendiri jarang datang untuk berziarah ke makam tersebut. Makam tersebut merupakan Makam Mbah Kolot Pidin. Makam ini memiliki bentuk yang tidak biasa dibandingkan dengan makam lainnya. Hal ini dapat dilihat dari perbedaan panjangnya dengan makam biasa. Makam Mbah Kolot Pidin memiliki panjang yang mencapai 8—10 meter.

Ada yang berpendapat bahwa di dalam makam tersebut terdapat jenazah Mbah Kolot Pidin yang dikubur dengan benda-benda sakti yang dimilikinya. Namun, ada pula yang berpendapat bahwa di dalam makam tersebut terdapat jenazah Mbah Kolot Pidin dengan kedua adiknya, yaitu Saidin dan Saipin.

Uniknya, setiap tahun para peziarah akan beramai-ramai datang ke Makam Mbah Kolot Pidin dengan membawakan banyak makanan tertentu yang kemudian diletakkan di dalam tempat yang telah disediakan dalam saung. Makanan tersebut nantinya akan dinikmati bersama-sama dan juga dibagikan kepada warga yang tinggal di sekitar makam.

Di dekat makam panjang, terdapat pula makam lain yang bernama Makam Mbah Uyut Bongkok. Saat memasuki makam ini, kamu akan disuguhi hawa gelap dan suram yang akan membuat orang merinding. Ditambah lagi, keberadaan dua pohon beringin yang mengapit makam tentunya menambah kesan angker tempat tersebut.

Selain itu, di Citeureup juga terdapat makam Syarifudin Shoheh atau yang lebih dikenal dengan Pangeran Sake. Pangeran Sake sendiri merupakan salah satu tokoh yang berkaitan dengan penyebaran agama Islam di Indonesia, terutama di daerah Citeureup. *)

Maguma Taraya Bercerita

Penulis: Arunika Niscala (Tim Naskah Kelas X-2)

QRCBN: 62-839-3450-925

Editor: Neneng Hendriyani

Lay out: Tim CV

Desain Sampul: Agnia Saffanah Az Zahwa, Rifdah Mufida Zahrah, Saskia Damayanti

Cetakan Pertama, Mei 2023

Cover Maguma Taraya Bercerita; sumber: CMJ

Di Balik Nama Maguma Taraya Bercerita

Buku ini merupakan hasil karya siswa kelas X-2 (Gen 10) SMA Negeri 4 Cibinong terkait kegiatan pembelajaran pada Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) Tema 3 Kearifan Lokal. Sengaja mengambil judul “Maguma Taraya” karena nama ini mengandung makna yang cukup luas.

Taraya merupakan akronim yang berasal dari suku kata awal nama tempat yang penulis angkat sebagai tema dari isi buku. Dalam kata ‘Maguma’, Ma adalah Jalan Mayor Oking, Gu adalah Tugu Perjuangan Masyarakat Cibinong, Ma adalah Makam Panjang. Lalu, dalam kata ‘Taraya’, Ta adalah Situ Citatah, Ra adalah Kampung Sampora, dan Ya adalah Sekolah Mardi Waluya. Jadi, Maguma adalah Jalan Mayor Oking, Tugu Perjuangan Masyarakat Cibinong, Makam Panjang, Situ Citatah, Kampung Sampora, dan Sekolah Mardi Waluya.

Kata ‘Bercerita’ memiliki filosofi bahwa tempat-tempat yang penulis kunjungi memiliki kisah dan keunikannya masing-masing yang sudah mulai pudar dari waktu ke waktu. Saat penulis melakukan observasi, tempat-tempat tersebut seakan-akan bercerita kepada kami bahwa ia memiliki sejarahnya sendiri.

Taraya sendiri memiliki kisahnya masing-masing. Tempat-tempat tersebut memiliki kisah unik yang bisa terus diceritakan kebenarannya kepada generasi penerus secara turun temurun. Keunikan mereka ada pada asal usul dari keberadaan tempat tersebut. Kebanyakan yang melatarbelakangi adanya tempat-tempat tersebut tidak lepas dari campur tangan para penjajah Belanda. Namun, setelah dipelajari dengan lebih cermat, sebenarnya para penjajah Belanda membuat tempat-tempat tersebut untuk kebaikan negara ini juga.

Memang, tidak semua tempat yang penulis teliti dibuat oleh bangsa Belanda. Namun demikian, ternyata tempat-tempat tersebut masih memiliki kaitan dengan hal-hal yang menyangkut peristiwa penjajahan bangsa Indonesia oleh bangsa Belanda. Seakan-akan peran bangsa Belanda dalam sejarah berkembangnya tanah air tercinta ini sangatlah penting dan juga memegang peran yang cukup besar. Hal tersebut yang membuat peninggalan-peninggalan dari tempat yang penulis teliti sangatlah unik, karena semua tempat tersebut berkaitan satu sama lain dengan masa Kolonial Belanda yang sarat sejarahnya sangat kental dan tentunya menjadi ingatan serta pengalaman yang berharga tersendiri bagi bangsa Indonesia dan juga masyarakat Indonesia.

Tentunya dengan menulis buku ini, penulis berharap agar kebenaran sejarah dari tempat-tempat yang diteliti menjadi terlestarikan sehingga sejarah dari tempat-tempat tersebut bisa diceritakan kembali ke generasi selanjutnya. Penulis juga berharap dengan adanya buku ini, masyarakat di sekitar tempat- tempat yang penulis kunjungi bisa menunjukkan rasa peduli terhadap tempat-tempat tersebut dengan menjaganya dan juga merawatnya agar tetap ada dan terlestarikan hingga anak cucu penerus bangsa Indonesia.*)